Tampilkan postingan dengan label ANARKISME. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANARKISME. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

Dari Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian

KOMUNISME, bagi banyak orang, merupakan kata yang memiliki implikasi negatif. Hingga akhir abad ke-20 ini, komunisme diasosiasikan dengan Rusia atau Uni Soviet, sebuah negara yang sama sekali bukan negara sosialis maupun komunis, melainkan suatu bentuk kapitalisme negara yang amat totaliter dan kejam. Kaum sosialis sejati maupun komunis libertarian memiliki tugas yang berat untuk menunjukkan bahwa komunisme maupun sosialisme sama sekali tidak pernah terdapat di negara-negara seperti Uni Soviet, Kuba atau bahkan Yugoslavia. Mereka juga harus menerangkan bahwa komunisme, dalam bentuknya yang primitif, pernah ada sebagai suatu bentuk masyarakat, dalam jangka waktu yang panjang –hingga dua juta tahun atau lebih– sejak munculnya manusia di bumi.
Sejak lenyapnya komunisme primitif, dan timbulnya masyarakat yang mengakui kepemilikan pribadi –pertama perbudakan, kemudian feodalisme dan terakhir kapitalisme– “kantung-kantung” komunisme kerakyatan bertahan hingga masa baru-baru ini. Kelompok komunis kecil telah dibentuk, sering kali oleh “intelektual” borjuis maupun borjuis-kecil, dengan berbagai tingkat keberhasilan. Namun sepanjang masa, ide mengenai komunisme, yang biasanya memiliki kecenderungan utopis atau anti-teknologi, tumbuh –dan kadang kala dikembangkan– oleh kelompok-kelompok kecil yang idealis. Baru setelah pertengahan abad ke-19, individu dan kelompok politik menyarankan suatu bentuk komunisme yang baru dan maju sebagai masyarakat yang akan menggantikan kapitalisme; suatu masyarakat yang lebih “tinggi”, memajukan kepentingan orang banyak, bukan hanya sekelompok kecil kelas seperti kapitalisme; dan yang terpenting, akan timbul dari sebagian terbesar rakyat –kaum buruh– melalui suatu revolusi sosial. Beberapa tokoh komunisme modern, terutama dalam dekade-dekade awal abad ke-19 dianggap sebagai komunis “utopis”; yang lain, para pengikut Marx dan Engels, menyebut dirinya “komunis ilmiah”, namun mereka dituduh sebagai “komunis otoriter” oleh lawan-lawan anarkis mereka, yang dalam banyak kesempatan, berusaha menumbuhkan suatu bentuk sosialisme atau kolektivisme non-otoriter, yang kemudian muncul sebagai komunisme libertarian.
Komunisme Primitif
Ciri-ciri utama keprimitifan adalah ketergantungan pada sumber-sumber makanan “liar”, dengan segala keterbatasannya. Masyarakat primitif sering kali mengalami malnutrisi dan dihantui kelaparan. Komunitas-komunitas berukuran kecil. Hanya pada saat-saat tertentu sajalah terdapat cukup banyak makanan. Namun, bentuk kehidupan tersebut mendorong tumbuhnya kode etik yang amat sederhana. “Kepemilikan pribadi”, demikian Grahame Clark dalam Dari Perbudakan ke Peradaban (From Savagery to Civilisation), “…terbatas pada benda-benda seperti senjata, tongkat untuk menggali, kantung dan benda-benda kecil lainnya, meskipun dalam pembagian daging, misalnya, bagian tiap orang didefinisikn secara sosial. Hak-hak komunal berlaku pada seluruh wilayah tempat pencarian makanan, tempat anggota masyarakat berkelana, dan batas-batas wilayah kelompok lain.” Menurut Peter Kropotkin, “Dalam kelompok, segalanya dibagi bersama-sama, semua potong makanan dibagikan untuk semua yang ada, dan jika seseorang berada di dalam hutan, ia tidak akan mulai makan sebelum tiga kali memanggil rekan-rekan yang mungkin mendengarnya untuk membagi makanannya.” “Singkatnya”, lanjut Kropotkin, “…dalam kelompok, aturan ‘segalanya untuk semua’ merupakan aturan tertinggi, selama belum ada masyarakat yang berkelompok berdasar pada keluarga, yang memecahkan persatuan kelompok itu” (Mutual Aid).
Mengenai komunisme primitif, Paul Lafargue dalam Evolusi Kepemilikan dari Perbudakan Hingga Peradaban (Evolution of Property from Savagery to Civilisation) berkomentar: “Jika manusia primitif tidak mampu membayangkan ide kepemilikan pribadi terhadap benda-benda yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya, itu karena ia tidak memiliki konsepsi mengenai individualitasnya secara terpisah dari kelompok masyarakatnya. Manusia primitif dikelilingi bahaya yang terus mengancamnya, yang konkrit, dan ia dicemaskan oleh ancaman-ancaman yang ia bayangkan, sehingga ia tidak dapat hidup sendiri: ia bahkan tidak dapat membayangkan kemungkinan terjadinya hal tersebut. Bila manusia primitif dibuang dari masyarakatnya, sama sajalah dengan membunuhnya; …untuk berpisah dari rekan-rekannya,untuk hidup sendiri, menakutkan bagi manusia primitif, yang biasa hidup dalam kelompok…perburuan dan penangkapan ikan, mode-mode produksi primitif, dilakukan secara bersama-sama, dan hasilnya dinikmati bersama…”.
Ketika manusia primitif tidak lagi hidup secara berpindah-pindah, dan mulai membangun tempat tinggal yang permanen atau semi-permanen, bangunan rumah tersebut biasanya bukanlah rumah pribadi seperti kita kenal sekarang ini, melainkan dihuni bersama-sama. Dalam rumah-rumah seperti itu, barang-barang yang ada dipakai dan dimiliki bersama. Pada masa yang lebih belakangan (dalam beberapa masyarakat asli Amerika), Lewis H. Morgan mengamati: “Keluarga syndasmian merupakan ciri-ciri khusus. Beberapa keluarga tersebut tinggal di satu rumah, mendirikan rumah tangga komunal, dan di dalamnya melaksanakan prinsip-prinsip komunisme” (Masyarakat Kuno). Pengamatan Morgan ini dilakukan pada kaum Iroquis, yang pernah hidup bersamanya. Kemudian, dengan timbulnya keluarga patriarkis, rumah tangga menjadi milik keluarga tunggal. Namun, dalam masa ini, tanah tetap dimiliki secara bersama-sama.
Tetapi, lanjut Lafargue, “Perlahan-lahan pemikiran mengenai kepemilikan pribadi, mulai timbul dalam pikiran manusia. Manusia mengalami proses perkembangan yang lama dan menyakitkan hingga mencapai kepemilikan tanah secara pribadi. Bahkan, pembagian tanah yang paling awal adalah pembagian untuk lahan dan wilayah berburu untuk seluruh kelompok. Perkembangan pertanian menjadi sebab utama pembagian tanah bersama, kadang kala menjadi lahan-lahan kecil, kadang-kadang bersifat permanen, namun lazimnya tahunan. Lafargue mencatat bahwa umumnya “kepemilikan tanah pada awal-awalnya berada pada kaum perempuan”. Dan, tentang peran permpuan dalam komunisme primitif, Frederick Engels menulis, “Rumah tangga komunis berarti supremasi perempuan di rumah, sebagaimana pengakuan eksklusif terhadap orang tua perempuan –karena tidak mungkinnya mengenali orang tua laki-laki secara pasti– memberikan posisi yang tinggi kepada ibu atau perempuan. Salah satu anggapan yang paling absurd yang berasal dari Zaman Pencerahan di abad ke-18 adalah bahwa pada awal peradaban, perempuan merupakan budak laki-laki. Dalam semua masyarakat primitif pada tingkat rendah dan menengah, bahkan hingga sebagian masyarakat berperadaban tinggi, posisi perempuan tidak saja bebas, namun dihargai pula”. (Asal-Usul Keluarga, Hak Milik Pribadi dan Negara). Dan Lafargue mencatat bahwa “Kepemilikan tanah, yang pada akhirnya memberikan pemiliknya suatu cara emansipasi dan supremasi sosial, pada awalnya merupakan penyebab penindasan; perempuan disingkirkan untuk melakukan pekerjaan kasar di ladang, hingga mereka terbebaskan oleh adanya buruh kasar. Pertanian, yang mendorong kepemilikan pribadi atas tanah, menciptakan buruh kasar yang selama berabad-abad dikenal sebagai budak, pekerja paksa dan pegawai”.
Singkatnya, menurut Engels, “Pada semua tahap-tahapan awal masyarakat, produksi pada hakekatnya merupakan kegiatan bersama, sebagaimana konsumsi bergantung pada distribusi langsung produk-produk dalam komunitas komunis kecil atau besar. Produksi kolektif ini sangat terbatas, namun inheren di dalamnya adalah kontrol para produsen terhadap proses produksi dan produknya. Mereka tahu apa yang dilakukan terhadap produknya: mereka mengkonsumsinya; produk-produk tidak meninggalkan tangan mereka. Dan selama produksi berlangsung demikian, produksi tak dapat meningkat amat pesat, ataupun menumbuhkan kekuasaan dari luar terhadap mereka, seperti selalu terdapat dalam peradaban.”
Singkatnya, itulah Komunisme Primitif.
Komunisme Utopis
Gejala komunisme utopis atau komunisme yang mengidamkan masa lampau dapat ditemukan sejak revolusi budak pada tahun 71 SM. Spartakus dikatakan berkata, “Apapun yang kita ambil, kita miliki bersama-sama, dan tidak ada yang boleh memiliki apapun selain senjata dan pakaiannya. Kita akan berlaku seperti manusia di masa lampau.” (Spartacus, oleh Howard Fast).
Kebencian kelas dan suatu bentuk komunisme utopis dijalankan oleh banyak kaum Kristen Purba, yang pada masa itu sebagian besar terdiri dari kaum plebeia atau bekas budak. Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa “…semua memiliki segalanya bersama-sama”. Dan dalam khotbah kesebelas dalam kitab tersebut, dikatakan, “Terberkatilah mereka, karena tidak seorang pun dari mereka berkekurangan, dan karena mereka memberi dengan ikhlas, tak seorang pun dari mereka miskin. Mereka tidak memberikan sebagian milik mereka; mereka memberikan semuanya… Apa yang diperlukan seseorang diperoleh dari milik bersama, bukan dari milik pribadi salah seorang dari mereka. Maka mereka yang berderma tidak menjadi sombong… Semua memberikan semua yang mereka miliki menjadi milik bersama…” Dalam tulisannya, Pondasi Kekristenan (Foundations of Christianity), Karl Kautsky berkomentar bahwa dalam Injil St. Yohanes, kehidupan komunis Yesus dan para rasulnya diterima sebagai suatu fakta yang biasa. Namun komunisme ini utamanya hanya dalam konsumsi. Kaum Yahudi Esseni juga mempraktikkan komunisme serupa. Komunisme Kristiani segera berkurang dan hilang. “Penerimaan perbudakan, juga meningkatnya pembatasan untuk makan bersama dalam komunitas, bukan sebab satu-satunya halangan bagi komunitas Kristiani untuk mengefektifkan tendensi komunisnya”, tulis Kautsky. Kaum simpatisan yang kaya bergabung dengan Gereja, uang menjadi penting, terjadilah konsesi-konsesi peraturan, dan mereka yang kaya menemukan kunci Surga –dengan harga tertentu! Singkatnya, menurut Kautsky, “Para kaisar Roma tunduk kepada komunitas Kristiani, bukan komunisme Kristiani. Kemenangan Kristianitas bukanlah kediktatoran proletariat, namun kediktatoran para tuan yang menjadi besar dalam masyarakatnya. Para pejuang dan martir komunitas awal, yang telah membaktikan miliknya, kerja-kerja mereka, bahkan jiwa mereka demi keselamatan mereka yang miskin dan menderita, hanyalah memberikan dasar untuk suatu penindasan dan eksploitasi yang baru”. Namun, pemikiran dan ideal komunisme tidak sama sekali hilang, bahkan dari Gereja Kristiani.
Komunisme kadang kala timbul dalam masa yang dikenal sebagai Abad Pertengahan. Ini sering kali dikenal sebagai “komunisme agraria”; namun sebagaimana ditunjukkan Frank Ridley dalam Tradisi Revolusioner di Inggris (The Revolutionary Tradition of England), “Komunisme dalam Abad Pertengahan pada hakekatnya adalah komunisme religius: yang mengambil bentuk pelanggaran tradisi dan hirarki agama yang baku, baik di Barat maupun di Timur… ia merupakan salah satu kekuatan utama yang mendorong revolusi sosial selama masa tersebut. Para propagandisnya yang tak kenal lelah merupakan para murtad, dari dunia bawah tanah yang tak terkenal, yang selalu bergolak di bawah permukaan masyarakat Abad Pertengahan.” Komunisme ini, tentu saja, dari kondisi masa itu, merupakan komunisme konsumsi agraria, dan bukan komunisme produksi industrial modern. Ia juga religius, maka juga merupakan komunisme yang memandang-ke-belakang. Tapi kalau tidak begitu, lantas apa lagi yang bisa menjadi contoh? Semua komunisme dan revolusi yang bertujuan komunisme sebelum Revolusi Industri selalu memandang ke belakang sebagai modelnya. Namun satu contoh menarik adalah komunisme John Ball dan para petani penggarap yang ikut serta dalam revolusi besar-besaran pada tahun 1381.
Tulisan ini tidak membahas lebih lanjut sebab-sebab revolusi tersebut, yang mencakup Perang Seratus Tahun, kekurangan tenaga kerja penggarap karena wabah pes, penderitaan para penggarap dan propaganda komunis religius-agraria dari para Lollard.
Sebelum revolusi besar tersebut, seorang pastor, yang berbasis di Colchester, bernama John Ball, berkeliling negeri, dan berbicara kepada orang-orang di manapun mereka berkumpul. Ball mungkin “agitator” komunis pertama. Khotbahnya merupakan syair, “Ketika Adam mencari-cari dan Hawa berjalan, Siapakah sang tuan?” Setelah dibebaskan dari penjara Rochester, Ball berbicara dalam sebuah pertemuan penggarap di Blackheath, pada tanggal 12 Juni 1381. Apa yang ia katakan tidak diketahui secara tepat, namun Charles Poulson dalam Episode Inggris (English Episode) dan William Morris dalam Sebuah Mimpi John Ball (A Dream of John Ball) memberikan gambaran demikian. Demikian John Ball, menurut Poulson: “…Pada awalnya semua manusia setara, semuanya saudara. Mengapa ada orang yang berkata ‘Aku lebih mulia daripada kamu’? Mengapa seseorang bekerja sepanjang hari di ladang, dan masih tak dapat memberi makan anak-anaknya, sedangkan seorang lain mengambil kehidupan dari kaum miskin dan menjadikannya jubah bermutiara untuk punggungnya?…Aku katakan kepada kalian, meskipun penuh dengan kebanggaan, pakaian yang indah, tangan yang bersih dan wewangian, Kebangsawanan itu jahat… Dan sebenarnya inilah waktu untuk berseru. Aku melihat kalian di depanku, wahai saudaraku, dan tidak seorangpun dari kalian tidak bekerja sepanjang hidup kalian, dari terbitnya sang surya hingga tenggelamnya. Dan kalian kini mengenakan gombal sebagai pakaian. Gabah dan ternak kalian gemukkan, tapi kalian kurus kering. Segenggam kacang saja, makanan kalian hari ini. Semua yang kalian rawat, semua yang kalian buat dan bangun, diambil dari kalian. Denda ini, pajak itu, dan tenaga kalian. Tuan kalian yang mulia menghisap darah kalian seperti vampir. Tidakkah kalian akan makmur dan bahagia, bila tidak ada yang diambil dari kalian? Maka aku berkata, saudaraku, mari kita beri makan anak-anak kita di muka para tuan. Mari kita hentikan perampokan ini.”
Dan menurut Morris, Ball berkata demikian: “…terlalu banyak orang kaya di daerah ini; bahkan bila hanya ada satu orang kaya pun, masih terlalu banyak, karena semua akan dikuasainya… Dan bila para tuan tersebut telah tiada, apa yang berkurang dalam diri kalian? Kalian tak akan kehilangan ladang yang kalian bajak, tidak pula rumah yang kalian bangun, bukan juga pakaian yang kalian tenun: semuanya akan menjadi milik kalian, dan semua yang diberikan bumi menjadi milik bersama; ia yang menyemai akan menuai, dan si penuai akan makan bersama dalam persaudaraan… tak seorangpun harus membajak ladang seorang lainnya…”
Pada kesempatan lain, Ball menyatakan bahwa, “Keadaan Inggris tak akan menjadi baik, dan tak akan pernah demikian, hingga semua menjadi milik bersama” (Lihat A People’s History of England, oleh A.L. Morton). Pandangan serupa tumbuh di tempat lain di Eropa, terutama di kalangan Jacquerie di Perancis sekitar empat puluh tahun sebelumnya. Di Inggris, pandangan ini kemudian terkubur selama berabad-abad. Barulah pada “Pemberontakan Besar” –Revolusi Inggris– pada abad ke-17 kita menemukan kembali ide dan eksperimen komunisme.
Pemikiran komunisme utopis diterima pada kalangan “Perata” (Levellers), namun pada saat itu komunisme belum diterima di kalangan warga kota, yang belum memiliki proletariat industrial. Dalam Cromwell dan Komunisme (Cromwell and Communism), Eduard Berstein berkata, “Rencana-rencana komunisme paling-paling hanya bisa menarik kaum pekerja pedesaan pada saat-saat tertentu. Bahkan, dalam Pemberontakan Besar, tidak sekalipun terdapat gerakan kelas independen pada kaum buruh perkotaan, meskipun pada puncak gerakan tersebut terdapat beberapa usaha pemberontakan komunisme agraria.”
Seorang rekan John Liburne, bernama William Walwyn, menyerang ‘ketidaksetaraaan pembagian benda-benda dalam kehidupan’, dan mengklaim, seperti John Ball sebelumnya, bahwa “dunia tak akan pernah menjadi baik hingga semuanya dimiliki bersama”. Dan terhadap penentang komunisme, ia berkomentar, “Nanti kebutuhan kita akan pemerintahan akan berkurang, karena tidak akan ada lagi pencuri, pengingin milik orang lain, penipu dan perlakuan buruk satu terhadap yang lain, maka pemerintah tidak akan diperlukan lagi.” William Walwyn tampaknya anarkis-komunis pertama di Inggris! Terdapat pula lainnya yang menyarankan pemikiran serupa, sering kali dengan mengutip dari Kitab Suci Kristiani.
Dan ada pula yang mengkonkritkan pemikirannya dalam praksis. Di antaranya terdapat “Perata yang Benar” (True Levellers) seperti mereka menyebut dirinya, atau “para penggali” sebagaimana dikatakan orang-orang lainnya.
Pada hari Minggu, tanggal 8 April 1649, tiba-tiba di dekat Cobham di Surrey, muncul sekelompok orang yang membawa sekop, yang mulai menggali lahan tidur di samping bukit St. George. Mereka bertujuan menanam gandum dan tanaman lainnya. Mereka menerangkan kepada warga sekelilingnya bahwa jumlah mereka pada saat itu masih kecil, namun akan segera meningkat menjadi empat ribu orang. Mereka menyarankan bahwa “rakyat biasa seharusnya bisa menggali, membajak, menanam dan berdian di tanah milik bersama tanpa menyewa atau membayar biaya apapun”. Setelah mereka mendirikan tenda, mengolah tanah dan bersiap-siap untuk menggali di bukit lainnya, juga untuk ditanami (jumlah mereka kini sekitar 50 orang), mereka diserang tentara dan banyak yang ditangkap. Winstanley, pemimpin mereka, diadili. Tidak seorang pun dari para “penggali” siap untuk mempertahankan diri mereka dengan kekerasan. Hampir semua didenda tinggi. Kemudian, mereka berusaha lagi untuk mengambil alih lahan tidur lainnya, namun mereka ditangkap lagi –dan didenda lagi. Mereka juga menerbitkan pamflet, yang beberapa di antaranya “ditulis dalam bahasa yang rumit”, yang dikatakan Bernstein sebagai “tabir untuk menyembunyikan rencana revolusioner para penulisnya”. Salah satu pamflet tersebut menyatakan bahwa “pada awal mula, Sang Pencipta menjadikan bumi milik bersama”. Mereka juga menggubah sebuah “Lagu Penggali” dengan isi serupa.
Pada wahun 1651, Gerrard Winstanley menulis The Law of Freedom on a platform yang di dalamnya ia tulis: Tidakkah jual beli hak yang sah dalam hukum? Tidak, itu merupakan hukum sang penakluk, namun bukan hukum sang Pencipta: bagaimana sesuatu yang salah bisa menjadi benar?… Ketika manusia memulai jual beli, ia kehilangan kesuciannya, karena pada saat itu ia mulai menindas dan menipu satu sama lain dari hak-hak mereka yang sah.”
Ia melanjutkan bahwa meskipun tanah negara dan gereja seharusnya digunakan bersama, kenyataannya tanah-tanah ini dirampas oleh para perwira dan berbagai macam spekulator. Ia mengatakan bahwa seharusnya tiada lagi orang kaya maupun orang miskin; tidak ada lagi ketidaksetaraan; seluruh “tanah dan gudang makanan menjadi milik bersama”; tidak ada lagi jual beli dan terakhir, tidak ada lagi profesi di bidang hukum. Namun, Winstanley tidak menentang organisasi “Semua pejabat dalam peradilan bersama yang benar harus dipilih. Setiap tahun harus dipilih pejabat baru untuk menggantikan yang lama”. “Ketika masa jabatan lama”, demikian menurutnya, “mereka menjadi busuk”. Bahkan, kelompok “Perata yang Benar” ini memiliki sebuah platform yang penuh dengan “pasal” dan “klausa”! Utopis, memang kelompok “Perata” ini, namun paling tidak pemikiran dan organisasi mereka lebih maju dan praktis daripada beberapa anarkis “modern”! Lebih lagi, hanya sedikit komunis utopis pada masa itu merupakan pasifis. Di dalam angkatan perang Cromwell, terjadi sejumlah pemberontakan mulai dari tahun 1647. Sayangnya, gerakan-gerakan pada masa itu tampaknya kemudian berkembang (atau menyusut) menjadi Quakerisme (yang memiliki ciri religius yang amat kuat) dan kecenderungan perulangan.
Marxisme
Masyarakat pada tahap awal pra-peradaban adalah komunis primitif. Namun beberapa ribu tahun lalu, sejak pengolahan tanah dan surplus produksi yang terjadi, perbedaan kelas menjadi tampak. Peperangan mulai diorganisir; suatu Negara yang represif timbul. Tawanan perang sering kali dipaksa untuk mengolah tanah atau membangun kuil-kuil dan piramid untuk tuan-tuan mereka yang baru. Demikianlah imperium budak pada masa lampau. Kekayaan cenderung terakumulasi pada beberapa orang kaya. Keruntuhan imperium budak yang terakhir –Imperium Romanum yang telah dekaden– mengawali suatu masa baru. Sekitar seribu tahun lalu, di Eropa dan berbagai tempat lain, suatu bentuk baru masyarakat berkepemilikan dan suatu bentuk baru perbudakan, secara bertahap timbul. Masyarakat ini disebut feodalisme. Si budak kini menjadi penggarap. Tuannya memiliki tanah, dan si penggarap mengerjakan tanah tuannya, memperkaya sang tuan, dan sebagai balas jasa ia boleh menggarap sedikit tanah untuk dirinya sendiri. Ia hanya mendapatkan sedikit untuk hidup, biasanya, bahkan kurang. “Diperlukan beberapa ribu tahun perbudakan untuk menyiapkan jalan menuju feodalisme. Dan kemudian diperlukan beberapa abad feodalisme untuk menyiapkan jalan menuju suatu bentuk masyarakat baru –kapitalisme– yang benihnya telah tumbuh dalam masyarakat feodal” (Socialist Manifesto, S.P. of C).
Kekayaan dan kekuasaan warga kota, paling tidak sebagian dari mereka, meningkat, dan kekayaan serta kemakmuran kaum bangsawan pemilik tanah menurun. Kaum bangsawan menjadi semata-mata parasit bagi masyarakat. Tuan-tuan baru dalam masyarakat –setelah perjuangan yang panjang, kemunduran dan pula revolusi– adalah para penduduk kota yang kemudian dikenal sebagai borjuasi. Perdagangan dan pertukaran meningkat. “Begitu terbebas dari kekangan feodalisme, gerak maju kapitalisme menjadi suatu pacuan yang gila. Di manapun, pabrik dan tanur tumbuh. Asap dan bau mereka mengubah lahan-lahan yang semula subur dan berpenduduk padat menjadi tanah-tanah miskin yang tak dapat dihuni; limbah mereka meracuni dan mencemari sungai-sungai hingga mereka berbau busuk ke langit…” (Socialist Manifesto).
Suatu kondisi baru perbudakan menggantikan feodalisme. Kaum sosialis, baik Marxis maupun non-Marxis menyebutnya “perbudakan-demi-upah”. Mantan penggarap, dan kadang kala, petani bebas, digusur dari tanah mereka dan digiring menuju kota-kota, tempat mereka terpaksa (karena bila mereka menolak, mereka terancam kelaparan –dan memang demikianlah adanya!) untuk bekerja di pabrik-pabrik dan tambang-tambang milik tuan-tuan mereka yang baru, kaum borjuis, para pemilik modal –para kapitalis. Para buruh itu menciptakan, sebagaimana para budak dan penggarap, surplus produksi untuk para tuan, jauh di atas apa yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. Kapitalisme, sebagai suatu masyarakat, berdasar pada upah kerja dan modal.
Dengan perkembangan kapitalisme, para ekonom dan lainnya, termasuk reformis sosial dan “intelektual” sosialis utopis mulai menganalisis masyarakat yang baru berkembang ini. Suatu alur pemikiran baru mulai timbul, yang membahas sifat-sifat kapitalisme. Utamanya, sejak tahun 1844, pemikiran ini diasosiasikan dengan dua orang Jerman, yang telah bertahun-tahun hidup di Inggris, yang pada masa itu merupakan negara yang kapitalismenya paling maju. Mereka adalah Karl Marx dan Frederick Engels –meskipun mereka mengakui hutang pemikiran mereka kepada ekonom dan filsuf yang telah ada, baik Marx maupun Engels sangat keras menentang apa yang mereka anggap sebagai sosialisme dan komunisme yang “tidak ilmiah”, juga terhadap mereka yang menyebut dirinya “Sosialis Sejati”.
Hingga tahun 1845, Engels masih terpengaruh pemikiran komunis utopis. Pada paragraf terakhir dalam Kondisi Kelas Buruh di Inggris (The Condition of the Working Class in England), pada tahun 1844 ia menulis “Komunisme pada prinsipnya melampaui batasan antara borjuasi dan proletariat… Komunisme merupakan masalah kemanusiaan, dan bukan hanya masalah para buruh saja… Dan sebagaimana komunisme mengatasi pertikaian antara borjuis dan proletar, akan lebih mudah bagi elemen-elemen yang lebih baik dari dalam borjuasi… untuk bergabung dengannya…” Namun pada tahun 1847, ketika ia merancang Prinsip-Prinsip Komunisme (Principles of Communism) — yaitu draft pertama Manifesto Komunis yang terkenal itu –Engels memulai dengan menyatakan bahwa “Komunisme merupakan doktrin mengenai kondisi terbebasnya proletariat”. Dalam Prinsip-Prinsip Komunisme, Engels menyatakan bahwa kaum buruh tidak memiliki apapun dan terpaksa menjual kerja mereka kepada borjuis; namun kemudian setelah Marx mempelajari moda produksi kapitalis, ia menyataan bahwa buruh tidak menjual kerja mereka, melainkan tenaga mereka, kemampuan mereka untuk bekerja.
Pada tahun 1845, Marx menulis Ideologi Jerman (German Ideology), yang antara lain membahas dan menyerang pikiran para pemikir idealis Jerman, dan pada bagian kedua buku itu, para sosialis “sejati” dan komunis utopis seperti Saint-Simon, Fourier dan Proudhon. Ia juga menyerang Proudhon dalam Kemiskinan Filsafat (Poverty of Philosophy). Namun, buku “klasik” pertama dari komunisme “ilmiah” –yang kemudian dikenal pula dengan komunisme otoriter– tentu saja adalah Manifesto Komunis. Untuk seterusnya, buku ini tetap menjadi pegangan utama, meskipun Engels menulis dalam prakatanya untuk tahun 1872 bahwa bagian-bagian tertentu dari program “dalam beberapa hal telah ketinggalan zaman”.
Manifesto Komunis bermula dengan menyatakan bahwa “Suatu hantu sedang menjadi momok Eropa –ialah hantu Komunisme”. Sejarah semua masyarakat yang telah dan pernah ada, menurutnya, adalah sejarah perjuangan kelas. Namun masyarakat kita kini –kapitalisme– telah menyederhanakan permusuhan kelas. “Semua masyarakat kini terbagi menjadi dua pihak yang bertentangan, dua kelas besar yang saling bermusuhan: borjuasi dan proletariat.”, demikian Manifesto. Marx dan Engels, dalam Manifesto (yang pertama kali terbit pada tahun 1848) secara terbuka menunjukkan perbedaan mereka dengan kaum utopis dan sosialis “sejati”, dengan menyatakan bahwa kaum proletarlah –meskipun melalui Partai Komunis– yang akan meruntuhkan masyarakat borjuis. Menurut Manifesto, “Semua gerakan sejarah yang telah ada merupakan gerakan minoritas, atau memajukan kepentingan minoritas. Gerakan kaum proletar merupakan gerakan yang sadar dari mayoritas, demi kepentingan mayoritas”. Ini patut dicatat karena banyak dari mereka yang mengaku Marxis pada masa kini dan semua Leninis menganut garis “partai pelopor”. Marx dan Engels menekankan bahwa kaum buruh tidak memiliki negara. Dalam hal apapun mereka dapat dianggap tidak memiliki apapun. Patut dicatat bahwa pada tahun 1848 dan untuk seterusnya, Marx dan Engels menggabungkan propaganda mereka tentang komunisme dengan suatu daftar kondisi-kondisi yang harus direformasi. Seperti banyak yang lain, mereka merasa bahwa mereka dapat menyarankan penghapusan masyarakat borjuis sekaligus pada saat yang sama melakukan “reformasi” pada masyarakat yang sama! Manifesto, antara lain menuntut pajak pendapatan progresif yang tinggi, penghapusan hak waris, penyitaan hak milik imigran dan pemberontak, pemusatan kredit pada negara, pemusatan alat-alat transportasi pada negara, organisasi angkatan perang modern dan pendidikan masyarakat yang gratis. Dengan kata lain: kapitalisme-negara!
Pandangan mereka mengenai komunisme di masa depan, terangkum demikian: “Ketika dalam perkembangannya perbedaan kelas telah lenyap, dan seluruh produksi terkonsentrasi pada individu-individu yang terkait, kekuasaan publik akan kehilangan sifat politiknya. Kekuasaan politik, secara spesifik, merupakan kekuasaan suatu kelas yang diorganisir untuk menindas kelas lainnya. Jika proletariat, yang dipaksa dalam perjuangannya melawan borjuasi untuk mengorganisir diri sebagai suatu kelas, menjadikan dirinya suatu kelas penguasa melalui revolusi, dan sebagai kelas penguasa menghancurkan kondisi-kondisi produksi yang telah usang; ia menghancurkan bersama kondisi-kondisi tersebut, kondisi-kondisi antagonisme kelas, kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian, dominasinya sebagai sebuah kelas.
Sebagai ganti masyarakat borjuis yang usang, dengan kelas dan pertentangan kelasnya, suatu hubungan kemasyarakatan muncul, yang dalamnya perkembangan bebas anggota-anggotanya merupakan syarat perkembangan bebas bagi seluruh masyarakat tersebut.”
Manifesto Komunis diakhiri dengan kalimat “Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah” yang kini terkenal itu.
Dalam makalahnya yang ditujukan untuk Sidang Umum Internasional Pertama (yang kemudian diterbitkan sebagai Nilai, Harga, dan Keuntungan (Value, Price and Profit), bukan Upah, Harga, dan Keuntungan (Wages, Price and Profit), seperti seringkali dikatakan, terutama di Rusia), Marx menyerukan kepada kelas buruh untuk menghapuskan sistem upah, sebagai tujuan jangka panjang, dan bukan dalam waktu dekat. Ini terjadi pada tahun 1865. Sepuluh tahun kemudian, dalam Kritik Program Gotha (Critique of the Gotha Program), Marx mengelaborasi pandangannya mengenai masyarakat komunis.
Demikian menurut Marx, “Di dalam masyarakat kooperatif, yang berdasarkan pada kepemilikan bersama alat-alat produksi, para produsen tidak saling menukarkan produk mereka…Yang kita bahas di sini adalah sebuah masyarakat komunis, bukan ketika ia telah berkembang dan matang, sebaliknya, ketika ia baru timbul dari masyarakat kapitalis. Ia adalah suatu masyarakat yang masih memiliki ciri-ciri ekonomi, moral dan intelektual masyarakat lama yang melahirkannya” Di sini, Marx menyatakan bahwa produsen menerima kembali tepat sebanyak yang ia berikan; ia menerima alat tukar yang senilai jumlah kerja yang ia lakukan. “Persamaan hak dalam hal ini masih pada prinsipnya hak kapitalis…” Hal ini masih memiliki keterbatasan kapitalis. Jadi, menurut Marx, hak ini adalah sebuah “hak untuk tidak setara”. Namun ia menyatakan, “masalah ini tak dapat dihindari dalam tahapan pertama masyarakat komunis”. Tetapi –dan ini merupakan pernyataan yang sangat penting dan terkenal dalam Critique, “Dalam tahap yang lebih lanjut dalam masyarakat komunis, setelah lenyapnya penindasan individual dalam pembagian kerja, dan demikian pula pertentangan antara kerja tangan dan otak; setelah kerja tidak hanya menjadi cara mempertahankan hidup namun juga keinginan tertinggi dalam hidup; ketika perkembangan semua keahlian individual meningkatkan kekuatan-kekuatan produksi, dan semua sumber-sumber kemakmuran mengalir dengan deras bagi semua– barulah cakrawala hak-hak kapitalis yang terbatas itu dapat ditinggalkan, dan dalam masyarakat akan terdengar seruan “Dari setiap orang berdasar keahliannya, untuk semua orang berdasar kebutuhannya!’”.
Pada bagian kedua Critique, Marx bertanya, “Lalu apa perubahan yang akan dialami institusi negara dalam masyarakat komunis?” Ia menjawab, “Antara sistem kemasyarakatan kapitalis dan komunis terdapat masa perubahan revolusioner. Ini merujuk pada masa transisi politik, ketika Negara tidak bisa tidak merupakan kediktatoran proletariat yang revolusioner”. Marx pada masa ini tidak pernah berpikir mengenai “kematian” atau “kelayuan” negara. Untuk pemikiran-pemikiran itu, kita harus mendengarkan Engels –lama setelah itu.
Karya-karya Engels terpenting mengenai komunisme/sosialisme adalah Anti-Duhring, yang pertama kali terbit pada tahun 1878, dan Asal-Mula Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (Origin of te Family, Private Property and the State), pertama terbit 1884. Bagian-bagian dari Anti-Duhring telah dikenal sebagai Socialism:Utopian and Scientific. Dalam bagian ketiga Anti-Duhring, Engels mula-mula membicarakan teori-teori dan koloni-koloni komunis Robert Owen, demikian pula pemikiran Saint-Simon dan Fourier. Orang-orang tersebut dituduh Engels sebagain utopis, namun ia juga menjelaskan bahwa “para utopis itu menjadi utopis karena memang pada masa produksi kapitalis belum begitu berkembang, tak ada jalan lain selain menjadi utopis”. Setelah menganalisis masyarakat borjuis dengan cara serupa –namun lebih jelas daripada– Marx, Engels kemudian memberikan gambaran metode Marxis “klasik” mengenai pencapaian sosialisme.
“Proletariat merebut kekuasaan negara, dan menjadikan alat-alat produksi sesegera mungkin menjadi milik negara. Namun dengan melakukan ini, ia tidak lagi menjadi proletar; ia menghentikan semua perbedaan dan permusuhan kelas; ia mengakhiri negara sebagai negara.” Dan “Ketika pada akhirnya (negara) benar-benar mewakili masyarakat secara keseluruhan, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Begitu tidak ada lagi kelas dalam masyarakat yang perlu dikekang; begitu pertentangan dan akibat buruk yang timbul dari dominasi kelas dan perjuangan eksistensi individu yang berdasar pada moda produksi lama yang anarkis telah hilang, tiada lagi yang perlu ditindas yang memerlukan suatu kekuatan represif, yakni suatu negara. Tindakan pertama negara yang menunjukkan dirinya sebagai perwakilan masyarakat secara keseluruhan –yaitu pengambilalihan alat-alat produksi atas nama masyarakat– sekaligus juga merupakan tindakan terakhirnya yang independen sebagai negara. Pemerintahan atas orang-orang digantikan dengan pengelolaan hal-hal dan arah proses produksi. Negara tidaklah “dihapuskan”, ia layu dan mati.” Dalam Sosialisme: Utopia dan Keilmuan (Socialism:Utopian and Scientific), dikatakan “Ia (negara) mati”. Pada bagian tentang produksi, Engels menyatakan bahwa produksi harus direvolusionerkan dari “atas ke bawah”; kerja produktif akan menjadi kesenangan, bukan beban, produksi dengan memanfaatkan industri modern, akan berdasar pada “suatu rencana luas”; dan akan terjadi penghapusan perbedaan kota dan desa, demikian pula pembagian kerja yang usang.
Dalam Asal Mula Negara (Origin of the State), Engels menyatakan bahwa proletar harus menyusun partainya sendiri dan memilih wakil-wakilnya untuk duduk dalam parlemen. “Keikutsertaan dalam pemilihan umum secara menyeluruh”, menurutnya, “menjadi tolok ukur kematangan kelas buruh. Ia tidak bisa dan tidak akan bisa lebih baik, namun sudah cukup”. Mengenai negara, ia menyatakan bahwa negara tidak selalu ada dari dulu. Ada masyarakat yang bisa bertahan tanpa negara. Negara pada akhirnya akan runtuh. Bahkan ia berkata, “Masyarakat yang mengorganisir produksi secara baru pada dasar asosiasi bebas dan setara para produsen akan menempatkan negara dan alat-alatnya ke tempatnya yang layak –museum artefak masa lampau, bersama dengan roda pemintal dan kapak tembaga”.
Sebelum meninggalkan pandangan Marxian tentang komunisme/sosialisme, perlu diingat bahwa Marx dan Engels membayangkan suatu kondisi masyarakat yang cenderung otoriter, paling tidak pada masa-masa awalnya. Dalam esainya mengenai kekuasaan, Engels menulis, “Kekuasaan… berarti pemaksaan keinginan orang lain terhadap kita; di pihak lain, otoritas mensyaratkan ketundukan. Sekarang, karena kedua istilah tersebut berkesan buruk dan hubungan yang ditunjukkannya tidak disepakati pihak yang tertindas, pertanyaannya adalah untuk meyakinkan apakah terdapat jalan untuk menghilangkannya, apakah –dengan melihat kondisi masyarakat masa kini– kita tidak akan menciptakan sebuah sistem sosial baru, yang di dalamnya otoritas ini tidak lagi memiliki lingkup dan akibatnya harus menghilang…
Di mana pun aksi bersama…mengalahkan aksi independen oleh individu; sekarang, mungkinkah membuat organisasi tanpa otoritas?
Bayangkan suatu revolusi sosial menjatuhkan para kapitalis, yang hingga kini memegang kekuasaan atas produksi dan sirkulasi kekayaan. Bayangkan pula, dengan mengambil seluruh pandangan para anti-otoritarian, bahwa tanah dan alat-alat kerja menjadi milik bersama para buruh yang menggunakannya. Akankah otoritas lenyap, atau hanya berubah bentuknya?”
Engels kemudian mencontohkan sebuah pabrik yang besar, sebuah pemintalan benang. Ia berkata, “…pertanyaan-pertanyaan penting timbul di masing-masing ruangan dan pada setiap saat mengenai moda produksi, produksi bahan-bahan dan lain-lain, yang harus segera diselesaikan dengan resiko terhentinya produksi; apakah diselesaikan melalui keputusan seorang wakil yang merupakan kepala suatu cabang pekerjaan, atau bila mungkin, melalui suara terbanyak, keinginan individu tunggal selalu akan menjadi subordinat, yang berarti bahwa pertanyaan akan dijawab dengan cara yang otoriter.”
Kesimpulan Engels mengenai “delegasi fungsi” tentu saja perlu diperdebatkan; namun ia lebih jauh lagi memuji-muji kekuasaan. Ia melanjutkan, “Namun pentingnya kekuasaan, terutama kekuasaan yang mutlak, tak akan mendapat contoh yang lebih baik daripada di atas sebuah kapal di samudra luas. Di sana, pada saat-saat bahaya, kehidupan semua akan tergantung pada ketaatan yang langsung dan absolut pada keinginan seseorang”.
Engels tentu saja keliru pada saat itu, dan juga sekarang! Sebagai bukti, misalnya pengelolaan angkatan laut Spanyol oleh para pelaut biasa selama masa revolusioner pada tahun 1936, dalam tulisan Peter E. Newell berjudul Anarchy in the Navy, dalam Anarchy 14.
Kita akan meninggalkan Engels dan “kekuasaan mutlak”-nya, meskipun perlu juga dijelaskan bahwa bahkan William Morris pun, yang dapat dianggap sebagai seorang sosialis libertarian dan kuasi-anarkis, memiliki pandangan serupa Engels tentang pengelolaan kapal “dalam kondisi sosialis” dalam esainya, Communism.
Terakhir, kita akan membahas pandangan libertarian atau anarkis, yang pada abad ke-19 terutama diasosiasikan dengan dua orang Rusia –Mikhail Bakunin dan Kropotkin, meskipun terdapat pula orang lain yang berpendapat serupa.
Komunisme Libertarian
Antara tahun 1842 dan 1861, Bakunin paling banter bisa dianggap sebagai seorang pan-Slavis revolusioner, meskipun sejak sebelum tahun 1861 sudah terdapat tendensi libertarian dalam pemikirannya. Namun, ia baru bisa dianggap sebagai seorang libertarian atau anarkis mulai tahun 1866, ketika ia menulis Katekisme Revolusioner (Revolutionary Catechism).
Dalam Catechism, Bakunin menganggap bahwa “Kebebasan merupakan hak absolut semua orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan”, bahwa, “kebebasan masing-masing orang hanya mungkin terjadi bila terdapat kesetaraan dalam seluruh masyarakat”. Ia menyatakan penolakan absolut terhadap segala bentuk kekuasaan “termasuk yang mengorbankan kebebasan demi negara”; “Tatanan dalam masyarakat”, demikian menurutnya, “harus timbul dari realisasi sejauh mungkin kebebasan individual, demikian pula kebebasan dalam semua tingkat organisasi sosial”. Ia menyerukan “pembentukan persemakmuran” dan “penghapusan kelas, jabatan dan privilese” dan secara agak mengejutkan, “pemberian hak pilih universal”, meskipun menurut tafsiran Max Nettlau, bukan dalam negara, melainkan dalam masyarakat yang baru. Bakunin juga menyerukan penghapusan “negara yang merasuk ke semua bidang, mengekang dan tersentralisasi” dan untuk “reorganisasi internal dalam tiap negara berdasarkan kebebasan absolut para individu, serikat-serikat produksi dan komune-komune”. Kebebasan hanya bisa dipertahankan dengan kebebasan pula, menurutnya. “Unit dasar semua organisasi politik dalam tiap negara haruslah berupa komune yang sama sekali otonom, yang tersusun dari pilihan mayoritas semua orang dewasa dari semua jenis kelamin. Tak seorang pun bisa memiliki kekuasaan atau hak untuk mencampuri urusan internal komune tersebut…” Negara, lanjut Bakunin, haruslah tidak lebih dari sebuah federasi propinsi-propinsi yang otonom. Tanpa kesetaraan politik, tak akan terdapat kebebasan politik, namun kesetaraan politik hanya akan mungkin terjadi apabila terdapat kesetaraan sosial dan ekonomi. Mayoritas, menurut Bakunin, hidup dalam perbudakan, dan “Perbudakan ini akan bertahan hingga kapitalisme diruntuhkan oleh aksi kolektif para buruh”. Dan kemudian, tanah dan semua kekayaan alam (akan) menjadi milik bersama semua orang…. Ia menutup Catechism demikian, “Revolusi secara singkat memiliki tujuan ini: kebebasan bagi semua, untuk individu maupun badan-badan kolektif, asosiasi, komune, propinsi, wilayah dan negara, dan adanya jaminan bersama terhadap kebebasan ini oleh federasi”.
Kemudian, juga dalam tahun 1866, Bakunin menulis sebuah Catechism lain yang serupa, yang di dalamnya sekali lagi ia menyatakan bahwa tanah harus menjadi milik bersama semua, dan bahwa “Revolusi harus dilaksanakan bukan untuk –namun oleh– rakyat, dan tidak akan pernah berhasil bila ia tidak secara antusias melibatkan massa rakyat, baik di pedesaan maupun di perkotaan.”
Dalam Federalism, Socialism, Anti-Theologism, Bakunin menyatakan bahwa sosialisme berarti “mengorganisir masyarakat sedemikian rupa sehingga semua individu yang hidup, laki-laki maupun perempuan, dapat menemukan cara-cara berkembang yang nyaris setara untuk masing-masing keahliannya… untuk mengorganisir masyarakat yang tidak memungkinkan bagi individu apapun untuk mengeksploitasi hasil kerja orang lain, yang tidak mengizinkan siapapun untuk bergabung dalam menikmati kekayaan masyarakat –yang hanya diproduksi oleh kerja saja– kecuali ia memberikan kontribusi terhadap penciptaannya dengan kerjanya sendiri”. Ia berpikir bahwa penyelesaian yang menyeluruh terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan kapitalisme “tentu saja akan memerlukan berabad-abad”. Namun, “sejarah telah menempatkan masalah tersebut di depan kita, dan kita tak dapat menghindarinya lagi”.
Bakunin selalu menekankan bahwa rakyat harus melaksanakan revolusi itu sendiri, bahwa negara harus lenyap dahulu: bahwa masyarakat harus “diorganisir dari bawah ke atas oleh delegasi-delegasi revolusioner…”; bahwa “aliansi revolusioner” rakyat harus menghindari segala bentuk kediktatoran. Namun, paling tidak pada tahun 1869, Bakunin menyatakan bahwa sebuah “masyarakat” revolusioner yang diorganisir dengan baik dapat membantu “kelahiran revolusi dengan menyebarluaskan di antara massa pemikiran-pemikiran yang memungkinkan mereka mengekspresikan insting mereka, dan untuk mengorganisir suatu staf umum angkatan perang revolusioner (bukan angkatan perang itu sendiri, yang harus disusun oleh rakyat itu sendiri), yang trediri dari orang-orang yang berdedikasi, penuh tenaga, cerdas dan terutama benar-benar seiring dengan rakyat…yang mampu berperan sebagai penengah antara pemikiran revolusioner dan insting rakyat”. Tidak diperlukan banyak jumlah orang-orang demikian, menurut Bakunin. Dua atau tiga ratus, sarannya untuk organisasi di negara-negara yang besar.
Bakunin terutama mengkritik keras mereka yang disebutnya “komunis (pro) negara” (State Communists). Ia juga menyerang keras mereka yang dianggapnya ingin memaksakan komunisme, atau sering kali ia sebut, kolektivisme, pada rakyat kecil. Mereka dianggapnya sebagai Jacobin. Bakunin dan Marx tentu saja bertentangan pemikiran, bahkan bermusuhan. Ini sebagian bersifat pribadi, sebagian lain politis. Dalam Letter to La Liberte, Bakunin menyerang Marx, menyatakan bahwa para Paus paling tidak memiliki alasan untuk menganggap bahwa mereka memiliki “kebenaran absolut”, namun “Tuan Marx tidak memiliki alasan tersebut”. Dalam pandangan Bakunin, “kebijakan proletariat, yang tentu saja revolusioner, harus memiliki tujuan jangka pendek penghancuran negara”. Namun Bakunin tidak dapat memahami mengapa Marx dan para Marxis ingin mempertahankan atau memanfaatkan negara sebagai alat pembebasan. “Negara sama dengan dominasi, dan dominasi apapun mensyaratkan tunduknya massa, dan akibatnya, eksploitasi mereka untuk kepentingan suatu minoritas penguasa”, demikian kritikan Bakunin terhadap Marx. “Para Marxis memiliki pemikiran yang bertentangan (dengan kami)”, menurut Bakunin. “Antara para Marxis dan kami terdapat jurang yang dalam. Mereka governmentalis, sedangkan kami anarkis, meski mungkin ada keserupaan antara kami”, demikian Bakunin.
Pada dasarnya, inilah pertengkaran besar antara Bakunin dan Marx; yang masih menjadi pertengkaran antara para anarkis revolusioner dengan para Marxis; antara komunis otoriter dan komunis libertarian.
Tentang Bakunin, Kropotkin menulis, “Bakunin pada dasarnya seorang komunis, namun serupa dengan kawan-kawan Federalisnya dalam Internasional, dan akibat antagonisme yang ditimbulkan para komunis otoriter di Perancis, ia menyatakan diri sebagai “anarkis kolektivis”. Namun, tentu saja ia bukan seorang kolektivis dalam artian serupa Vidal atau Pecqueur atau murid-murid mereka, yang pada dasarnya menginginkan kapitalisme negara. (Keilmuan Modern dan Anarkisme (Modern Science and Anarchism)). Namun, sejak tahun 1869, sejumlah “Bakuninis” menyatakan diri mereka sebagai komunis.
Kropotkin sangat membantu mengembangkan pemikiran yang diajukan –sering kali dalam cara yang tidak ilmiah dan tidak terkoordinasi– oleh Bakunin. Sebelum menjadi seorang anarkis, Kropotkin memiliki latar belakang dan pelatihan ilmiah. Dalam Memoar seorang Revolusioner (Memoirs of a Revolutionist), ia melihat, suatu bentuk masyarakat baru yang mulai tumbuh dalam “negara-negara beradab”, suatu masyarakat yang harus, pada suatu hari, menggantikan masyarakat yang lama: suatu masyarakat yang setara, “yang tidak akan dipaksa untuk menjual tangan dan otak mereka kepada mereka yang mempekerjakan mereka seenaknya, yang akan mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan mereka untuk produksi, dalam sebuah organisme yang dibentuk sedemikian untuk menggabungkan semua usaha untuk mendapatkan semaksimal mungkin kemakmuran bersama, sementara memungkinkan pula lingkup yang bebas untuk inisiatif individual”. Kropotkin menyatakan bahwa masyarakat demikian akan tersusun dari sejumlah besar asosiasi, yang berfederasi untuk keperluan-keperluan yang memerlukan federasi — komune-komune produksi, konsumsi, semua jenis organisasi, yang melampaui batasan negara. Semua ini akan bergabung melalui kesepakatan bebas antara mereka. “Akan terdapat”, menurutnya, “kebebasan penuh untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru produksi, penemuan dan organisasi.” Rakyat akan menggabungkan diri untuk segala macam pekerjaan “secara bersama”. Arahan menuju keseragaman dan sentralisasi akan dihindari, catat Kropotkin. Kepemilikan pribadi dan sistem upah harus hilang. Pemerintah tidak akan diperlukan lagi, karena federasi bebas dan “kesepakatan bebas” antar organisasi akan menggantikan perannya. Dan dalam Keilmuan Modern dan Anarkisme, Kropotkin secara khusus menyerang para “sosialis (pro) negara”, yang atas nama kolektivisme (sekarang dikenal sebagai nasionalisasi) menyarankan, bukan komunisme maupun sosialisme, namun kapitalisme negara. Ini, menurutnya, bukan hal yang baru, namun merupakan bentuk sistem pengupahan yang mungkin diperbaiki, namun tidak lebih baik.
Kropotkin, dalam tulisan yang sama, merujuk pada “revolusi sosial yang akan datang” yang dibedakannya dari revolusi Jacobin atau kediktatoran. Dan tentang revolusi demikian, ia menyatakan, “Selama terjadinya revolusi, suatu bentuk kehidupan yang baru akan tumbuh di atas reruntuhan bentuk-bentuk yang lama, namun tidak ada pemerintahan yang akan muncul selama bentuk-bentuk ini belum mengambil bentuk yang pasti selama masa rekonstruksi itu sendiri, yang harus terjadi pada ribuan titik pada saat yang sama”. Demikianlah komunisme-libertarian-federalis dan sosialisme Kropotkin.
Sejak Bakunin dan Kropotkin memformulasikan pemikiran mereka mengenai komunisme libertarian, anarkis, federalis dan bebas, orang-orang lain mengikuti dan mengembangkan pemikiran tersebut. Malatesta mempopulerkan mereka, demikian pula Alexander Berkman, terutama dalam Apa itu Anarkisme Komunis (What Is Communist Anarchism). Pada tahun 1926, Archinov, Makhno, Ida Me dan lain-lainnya mengembangkan pemikiran komunisme anarkis libertarian dan organisasinya dalam Organisational Platform of the Libertarian Communists. Kita tidak akan membicarakan pemikiran Malatesta, Berkman dan platformis di sini, karena mungkin banyak dari Anda lebih paham daripada saya. Tentu saja, formulasi pemikiran komunisme dan sosialisme libertarian, dan bentuk-bentuk organisasi akan berlanjut untuk, dalam kata-kata Kropotkin, “untuk bertunas”.
Referensi
• Judul : Dari Komunisme Primitif Hingga Komunisme Libertarian
• Judul asli : From primitive to libertarian communism
• Penulis : Peter E. Newell
• Diterbitkan pertama kali : Libertarian Communist Review
• Penerbit : Organisation of Revolutionary Anarchists

Hubungan Feminisme dan Vegetarianisme

“Dosa terburuk terhadap sesama makhluk hidup bukan dengan membenci, namun dengan mengacuhkan mereka. Ini adalah bibit dari ketidakmanusiawian.” (George Bernard Shaw)
KITA memaksa binatang melayani ‘kebutuhan’ manusia. Sebagai contoh dalam hal makanan, pakaian, ilmu pengetahuan, hiburan, teman, olah raga, dan berbagai macam lainnya. Dalam kehidupannya, perempuan dalam beberapa hal mengalami eksploitasi serupa. Keduanya berada dalam tekanan budaya garis laki-laki, dan mengalami pengurangan kebebasan – meskipun biasanya hal yang lebih parah terjadi pada binatang. Sebagian besar masyarakat tidak menyadari diskriminasi seperti pengubahan fungsi bahasa sehingga dapat digolongkan ke dalam pelecehan. Dan lebih banyak lagi, kita tidak (mau) melihat ketidakadilan dan kekejaman yang mengatasnamakan kelebihan kelompok (tertentu) manusia dari sesama makhluk.
Di dalam kamus Oxford, “animal” (binatang) dijabarkan sebagai benda/makhluk yang dapat merasakan dan bergerak. Melalui ideologi, istilah “manusia” telah memisahkan diri dari “binatang”. Kita telah memutuskan mata rantai yang menghubungkan kita dengan spesies-spesies lain dari binatang. Sama seperti batasan-batasan yang memisahkan orang kulit putih dan kulit berwarna, laki-laki dan perempuan. Rasisme adalah kepercayaan yang menempatkan suatu ras tertentu lebih tinggi, berdasarkan teori bahwa kemampuan, karakter dan lain-lain dari seorang manusia ditentukan oleh ras. Sexisme adalah prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atau suatu kelompok atau orang-orang berdasarkan jenis kelamin mereka. Garis-garis pemisah ini telah dikenali dan ditolak namun telah ditanamkan sejak muda. Tidak berbeda dalam kehidupan sehari-hari dengan rasisme dan sexisme adalah diskriminasi yang telah tertanam dalam terhadap binatang-binatang lain yang bukan manusia. Diskriminasi jenis ini disebut Speciesisme, yaitu suatu kepercayaan bahwa species-species binatang yang berbeda (termasuk manusia) memiliki perbedaan kapasitas/kemampuan untuk merasakan kesenangan dan kesakitan dan hak hidup bebasnya, biasanya mencakup gagasan bahwa species tertentu memiliki hak menguasai dan menggunakan/memanfaatkan species-species lainnya. Mungkin banyak orang berpikir bahwa menyetarakan penderitaan binatang-binatang bukan manusia hal-hal yang dialami oleh manusia adalah penghinaan.
Disamakan dengan seekor binatang dalam budaya kita adalah sama dengan dikecilkan artinya, atau dianggap tidak memiliki pikiran dan lepas kontrol. Yang sering digunakan adalah ejekan dengan meneriakkan “binatang” dan melupakan bahwa manusia itu sendiri adalah salah satu jenis speciesnya. Sama seperti istilah “mankind” (man = laki-laki) yang menempatkan perempuan diluar lingkarang kemanusiaan. Orang menggunakan nama-nama binatang untuk menempelkan label pada korban-korban mereka. Ketika seorang perempuan disebut sebagai “sebodoh kelinci”, atau “segemuk sapi”, kita mengetahui perempuan tersebut telah dilecehkan karena binatang biasanya menerima penghormatan yang jauh lebih kurang daripada yang diterima oleh perempuan. Howard Buchbinder, penulis buku “Male Heterosexuality” mengupas stimulus seksual laki-laki dan tanggapan merreka terhadap perempuan. Tahapan stimulasi, seperti juga proses pengubahan binatang menjadi daging, dapat diuraikan dalam tiga tahap:
Penempatan sebagai obyek cara laki-laki melihat perempuan sebagai sebuah konsep. Sebuah kumpulan, suatu benda, suatu obyek, sebuah kumpulan yang tidak dipandang sebagai individu per individu. Dengan menempatkannya sebagai obyek, laki-laki tidak lagi perlu berhubungan dengan perempuan pada tingkat personal. Feminisme telah menunjukkan kepada kita bahwa bahasa kita tidak hanya berpusat pada laki-laki, tetapi juga selalu dari sisi manusia.
Bahasa garis laki-laki bersikeras bahwa kata ganti yang diperuntukkan bagi laki-laki bersifat umum mengacu pada manusia baik laki-laki maupun perempuan, sekaligus khusus mengacu hanya pada laki-laki. Sama halnya dengan “it” yang mengacu pada benda-benda mati dan tidak bergerak yang jenis kelaminnya tidak dipersoalkan atau tidak diketahui.
Seperti “he” yang mengesampingkan kelompok jenis kelamin perempuan dalam kemanusiaan, “it” tidak menyentuh aspek kehidupan yang ada pada diri para binatang dan memberi mereka status obyek. Hal ini mengingkari kebebasan hidup dari binatang tersebut. Binatang-binatang yang dianggap sebagai penghasil makanan dikembangbiakkan baik dalam jumlah kecil maupun besar tidak dilihat sebagai individu, tidak sama dengan perlakuan lebih bersahabat yang dialami oleh binatang peliharaan.
Perempuan dapat dipandang sebagai obyek seksual sebagai akibat dari gambaran yang diperoleh dari budaya yang sedang berkembang sekarang ini. Para perempuan mungkin mengungkapkan perasaan mereka dengan berkata bahwa mereka diperlakukan seperti “seonggok daging”, harus ditekankan disini bahwa binatang benar-benar diperlakukan sedemikian rupa.
Fiksasi/pengkhususan cara laki-laki membagi-bagi tubuh perempuan dari individu-individu secara keseluruhan menjadi bagian-bagian yang secara khusus dilihat secara seksual, seperti dada, paha, pantat atau pangkal paha. Pada binatang, pengkhususan menjadi pemisah-misahan. Ini adalah tahap penjagalan, di “jalur/lajur pemisahan” tempat tubuh binatang dipotong dan dipisahkan menjadi bagian-bagian yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Kita mencari istilah terselubung bagi tubuh mati dari binatang, yaitu daging, dan memasak serta membumbui dan menutupi binatang tersebut dengan berbagai rempah dan saus untuk menyembunyikan bau dan bentuk asli mereka.
Yang terakhir, penaklukkan, dengan keberhasilannya menempatkan perempuan sebagai obyek yang terbagi-bagi sebagian laki-laki mencapai suatu tingkatan kepuasan seksual.
Agar setiap orang dapat menikmati kebebasan, tak seorangpun dapat ditekan. Seorang pemilik budak menghilangkan dua kebasan. Satu kebebasan budaknya, satu lagi kebebasan dirinya sendiri.
Ciri-ciri penekanan terhadap perempuan dan penekanan terhadap binatang menunjukkan begitu banyak persamaan sehingga tidaklah mengherankan jika feminis-feminis awal kebangsaan Amerika sejak jaman Lucy Stine, Amelia Bloomer, Susan B. Anthony, dan Elizabeth Cady Stanton sampai ke jaman Morgan (The Descent of Woman), Elizabeth Gould Davis (The First Sex), Laurier Holliday (The Violent Sex) telah menjauhi perbudakan binatang.
Jika semua yang mendukung falsafah dasar dari kebebasan menyangkut ras, jenis kelamin, orientasi seksual, atau species bersatu dalam suatu pergerakan menjauhi segala bentuk eksploitasi dan penekanan, maka semua binatang manusia dan bukan manusia, laki-laki dan perempuan akan terbebaskan.
—
Disarikan dari : Feminism dan The Vegetarian Connection by Angela Del Buono (dengan tambahan dari berbagai sumber).

Perspektif Kiri Dalam Memahami Ekologi[1]

Perspektif Kiri Dalam Memahami Ekologi[1]
Oleh: Katherine Yih[2]
Gerakan pro-lingkungan di AS, menurut perkiraan Murray Bookchin, “bisa jadi merupakan salah satu gerakan paling radikal dalam kurun waktu sejak tahun enam puluhan hingga sekarang.” Perspektif ekologi radikal, yang meliputi ekologi mendalam, ekologi sosial, bioregionalisme, ekofeminisme, maupun pandangan-pandangan Marxis, semuanya mengandung beberapa kritik mendasar atas tatanan politik/ekonomi/ sosial yang berkembang di dunia, yang karena itu membedakannya dari environmentalisme arus-utama (terkemuka). Namun, sekalipun tanpa para environmentalis arus-utama (terkemuka), apakah “gerakan” tersebut—yang lebih merupakan pencampuradukan organisasi-organisasi yang terbangun oleh beragam idelogi dan menerapkan strategi yang jauh saling berbeda—benar- benar memiliki kemauan atau kemampuan untuk mewujudkan perubahan struktural yang dibutuhkan guna menunda dan memulihkan kehancuran lingkungan?
Perspektif kiri dalam ekologi—khususnya ekologi social dan pandangan-pandangan Marxis—paling menjanjikan dalam hal merumuskan dan memecahkan persoalan seputar hubungan antara manusia dengan isi alam yang lainnya. Mereka memberikan komitmen pada keadilan dan pemahaman bahwa kapitalisme pada akhirnya menghalangi kesetaraan sosial maupun rasionalitas ekologi. Kendati demikian, ada beberapa perbedaan penting di antara pandangan-pandangan tersebut, yang berhubungan dengan keampuhan politisnya.
Salah satu titik perbedaan mendasar antara penganut ekologi sosial dan kaum Marxis adalah tingkat penekanan yang mereka berikan untuk persoalan-persoalan ekologis dalam keseluruhan program politik mereka. Penganut ekologi sosial menempatkan ekologi sebagai elemen inti program mereka, dari situ semua yang lainnya dianggap kurang-lebih mengikuti. Bagi kaum Marxis yang memiliki kepekaan ekologis, rasionalitas ekologis lebih merupakan sasaran kritik yang terkait dengan persoalan lain dalam analisis dan program yang lebih luas—menjadi merah sama perlunya dengan menjadi hijau.
Perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah hal sepele dan menimbulkan konsekuensi di lapangan. Sebagai contoh, di Burlington, Vermont (di Burlington sebagian besar anggotanya penganut ekologis sosial), Partai Hijau mengajukan seorang kandidat dalam pemilu raya 1989, yang pertarungan utamanya adalah antara Partai Demokrat dan seorang kandidat independen yang didukung oleh kaum sosialis yang tergabung dalam Koalisi Progresif. Sehingga keikutsertaan Partai Hijau mengancam terpecahnya suara bagi Koalisi Progresif. Akhirnya, Koalisi Progresif menang dengan mudah; hanya 3,4 persen suaranya yang terbagi untuk Partai Hijau. Pada pemilihan anggota Dewan Kotapraja tahun 1990, kandidat Partai Hijau di satu daerah pemilihan jelas-jelas menyatakan bahwa tujuannya bukanlah kemenangan melainkan mengalahkan Koalisi Progresif; Koalisi Progresif kehilangan daerah pemilihan tersebut dengan selisih suara yang tipis dibandingkan dengan jumlah suara milik Partai Hijau.
Adalah penting untuk melihat ideologi dan analisis yang mendasari ekologi sosial dan pandangan-pandangan Marxis tentang ekologi secara lebih rinci guna mengevaluasi implikasi-implikasi politiknya dan potensi mereka dalam menghadirkan tatanan sosial serta ekologi yang didambakan.
Ekologi Sosial
Karena berakar dari pandangan anarkis, maka ekologi sosial sangat anti-kapitalis dan menolak semua bentuk dominasi. Banyak kaum Hijau-kiri merupakan pendukung ekologi sosial; yang cukup dikenal adalah Murray Bookchin, yang menggunakan pertama kali istilah tersebut di tahun 1964 dalam esainya “Ecology and Revolutionary Thought”.
Bookchin memandang kemerosotan kualitas lingkungan terkait erat dengan kebutuhan/keinginan kapitalisme. Jadi, bukan industri dan teknologi yang salah, melainkan sistem ekonomi yang tak pernah puas, yakni kapitalisme. Selebihnya, sama seperti Marxis, ia menyatakan bahwa “kelas, juga eksploitasi, merupakan landasan bagi akumulasi kapitalis dan keniscayaan menuju pembusukan serta penghancuran planet ini.”[3]
Ekologi sosial memandang manusia terutama sebagai makhluk sosial, bukan sebagai spesies yang tidak dapat dibeda-bedakan— makhluk sosial, yang menurut Bookchin, “sangat berbeda-beda oleh karena status mereka sebagai orang kaya dan miskin, lelaki dan perempuan, hitam dan putih, gay dan ‘straight’, tertindas dan penindas.” Ekologi sosial “menekankan tuntutan keadilan dari kaum tertindas terhadap masyarakat yang secara semena-mena mengeksploitasi manusia, karenanya membutuhkan kemerdekaan kaum tertindas.”[4]
Meski mereka tak diragukan lagi humanis, ekologis sosial tidak memandang alam semata-mata sebagai sarana untuk memuaskan kebutuhan material manusia. Jelas sekali ada penilaian estetis seperti terlihat pada kutipan ini: Lepas dari bayang-bayang keraguan apapun, kita sangat membutuhkan kepekaan ekologis—yang ditandai oleh ketakjuban pada evolusi alam dan semarak biosfer dengan beragam bentuknya… Lebih dari itu, alam merupakan suatu proses—proses mengagumkan yang dapat dinikmati dengan caranya sendiri….[5]
Masyarakat ideal bagi penganut ekologi sosial, menurut pendapat Howard Hawkins, adalah sebuah “konfederasi non-hirarkis— masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, dan demokratis, yang berbasiskan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi,”[6] atau, dalam kata-kata Bookchin, “masyarakat berorientasi ekologis yang berbasiskan komunitas-komunitas dengan tata-nilai kemanusiaan yang bersifat bebas, terkonfederasi, yang di dalamnya manusia akan memiliki kendali langsung, tanpa perantara/ perwakilan, atas kehidupan sosial dan perorangannya.”[7]
Hawkins mengkaji aspek langsung, tanpa perantara/perwakila n tersebut: Dengan melandaskan diri pada majelis kerakyatan sebagai kesatuan public non-hirarkis yang menangani semua kepentingan social seperti ekonomi [model anarko-komunis] , maka akan terbangun solidaritas sosial yang lebih solid ketimbang memfokuskan diri pada persoalan ekonomi secara lebih sempit seperti model dewan. Dengan menyatukan kembali produksi dan konsumsi, anarko-komunisme hendak menghindari pembagian antara satuan-satuan usaha dan konsumsi yang berbeda-beda, kepentingan- kepentingan ekonomi yang terpisah-pisah, dan kemungkinan munculnya hirarki di antara mereka.[8]
Asumsi yang digunakan adalah bahwa dalam masyarakat tanpa kenegaraan, terdesentralisasi, demokratis, dan dengan tata-nilai kemanusiaan, maka manusia akan memiliki kendali yang lebih besar atas masyarakatnya dan saling memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar satu sama lainnya, yang akan membuat mereka mengelola lingkungan dan sumber daya alamnya secara rasional.
Tentang bagaimana cara untuk menuju ke sana, beberapa penganut ekologi sosial, seperti Brian Tokar, mengatakan bahwa caranya adalah dengan menciptakan alternatif-alternat if yang telah berjalan dengan baik, khususnya bioregionalisme, dikombinasikan dengan konfrontasi langsung dengan perangkat-perangkat /lembaga- lembaga kapitalis (contohnya demonstrasi di Wall Street setelah Hari Bumi, 23 April 1990)[9] . Para bioregionalis, yang tidak semuanya mengaku sebagai ekologi sosial, mendukung penarikan diri yang lebih besar dari ekonomi pasar dan memantapkan kemandirian pencukupan kebutuhan regional serta hubungan ekonomi kerjasama di antara komunitas-komunitas yang disatukan.
Ketika strategi ini dijalankan, pandangan tentang masyarakat alternatif tersebut terjerumus dalam tradisi utopian, miskin akan teori yang teruji tentang bagaimana transisi terjadi di bawah hegemoni kapitalis. Bukannya menganggap negara sosialis sebagai tahap yang diperlukan menuju masyarakat tanpa kelas, misalnya, namun kaum ekologis sosial (seperti Bookchin dan Hawkins) justru menolak habis negara, yang menurut mereka sudah pasti merupakan lembaga hirarkis dan tidak demokratis. Juga tak ada pemikiran mengenai dunia ketiga—bagaimana dunia ketiga terkait dengan negeri-negeri maju dalam hubungan yang tidak setara dan bagaimana aksi di satu tempat mempengaruhi keadaan di tempat lain.
Marxisme dan Ekologi
Marxisme, sebagai filsafat dan teori ekonomi-politik, menyediakan kerangka yang lebih luas dan matang ketimbang ekologi sosial. Karena itu, keduanya lebih berguna untuk memahami dunia, termasuk dunia alam”, dan memberikan landasan yang lebih kokoh bagi tindakan politik. Dua aspek dari teori Marxis yang paling relevan untuk memahami dan melakukan aksi atas isu-isu tentang ekologi serta lingkungan adalah materialism dialektik dan teori akumulasi.
Materialisme dialektik, sebagai filsafat, menjadi ada dan menyadari relevansinya dengan diskusi ekologi karena implikasinya pada cara kita memahami alam. Kini sudah menjadi pemahaman umum di kalangan ekologis profesional bahwa alam tidaklah statis, bukan sesuatu yang selalu sama, sekalipun tanpa gangguan manusia. Dengan ukuran komunitasnya maupun dengan ukuran biosfernya, alam tidak berada dalam keseimbangan” , tidak juga berada dalam “keadaan terbaik”-nya. Kita tahu tidak ada kekuatan apapun yang dapat memastikan kesetimbangan stabil dari jumlah populasi ataupun komposisi spesies dari komunitas-komunitas . Jadi pernyataan tentang keseimbangan dan keselarasan bersifat idealis dan ideologis. ( “Keseimbangan alam” dinyatakan sebagai analog dari “tangan yang tak terlihat” dalam ekonomi—di mana persaingan di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda dianggap akan meleburkan dirinya dalam sistem yang seimbang dan stabil.)[10]
Dalam esai mereka Dialectics and Reductionism in Ecology (Dialektika dan Reduksionisme dalam Ekologi) Richard Levins dan Richard Lewontin melancarkan kritik atas idealisme dan juga menolak materialism reduksionis. Sebagai gantinya mereka mengajukan pendekatan materialis dialektik untuk mengkaji alam. Reduksionisme menggunakan asumsi dasar bahwa fenomena dapat digambarkan secara keseluruhan sebagai gejala dari obyek yang terisolasi, atau dengan kata lain, bahwa “yang keseluruhan” (misalnya komunitas), dapat dipahami semata sebagai penjumlahan dari “yang sebagian” (misalnya spesies dalam komunitas), yang tidak memiliki gejalanya sendiri. Namun, dalam reduksionisme, bagian maupun keseluruhan sama sekali tidak saling menentukan atau mempengaruhi. Keyakinan reduksionis akan dunia atomistik tersebut menyebabkan kegagalan teori ilmiah dan aplikasinya¾karena membenarkan penelitian atas bagian-bagian dalam sekat-sekat pembatas antara satu sama lainnya dan meremehkan kebutuhan untuk memahami saling keterhubungan, asal-usul saling keterkaitan, dan sifat-sifat dari keseluruhan yang rumit.
“Ekologi harus menjawab persoalan saling ketergantungan dan otonomi relatif, kemiripan dan perbedaan, umum dan khusus, kesempatan dan kebutuhan, keseimbangan dan perubahan, kontinuitas dan diskontinuitas, proses-proses kontradiktif,” tulis mereka. Menurut mereka filsafat yang efektif untuk memahami karakteristik dan proses-proses tersebut adalah materialisme dialektik, yang “tesis utamanya adalah pendapat bahwa alam mengandung kontradiksi- kontradiksi, bahwa ada kesatuan dan interpenetrasi dari apa yang kelihatannya eksklusif tak saling pengaruh, dan karenanya isu utama bagi ilmu pengetahuan adalah kajian tentang kesatuan dan kontradiksi tersebut.”[11])
Mungkin berlebihan jika berpendapat bahwa seseorang harus menjadi Marxis terlebih dulu untuk menjadi ilmuwan yang baik, kritis, sadar akan kontradiksi dalam alam dan menyadari asumsi-asumsi perorangan. Namun Levins dan Lewontin memberi alasan kuat—dengan didukung oleh contoh-contoh ekologi populasi dan komunitas, mereka mengatakan bahwa, bagi kita, tak cukup sekadar menggunakan pendekatan materialis, melainkan harus menggunakan pendekatan materialis dialektik pada hal-hal khusus agar dunia menjadi masuk akal. Pendapat tersebut benar, khususnya dalam ekologi, karena melibatkan penelitian atas sistem yang kompleks secara intrinsik. Hal tersebut mendukung janji-janji materialisme dialektik untuk menjadi alat yang dapat lebih diandalkan ketimbang alat konvensional— yakni cara-cara reduksionis, yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk mengalihkan teknologi padat modal dan energi menjadi teknologi yang lebih “padat-ide”.[12]
Aspek khusus lain yang relevan dari Marxisme adalah teori akumulasi, yang menjelaskan bahwa syarat pertumbuhan kapitalisme dihasilkan dari upaya kekuatan-kekuatan (perusahaan) dalam menghadapi tekanan-tekanan kompetisi di antara mereka, sehingga memaksa mereka memotong biaya dan mengakumulasikan modal sebagai cara untuk bertahan hidup. Teori tersebut menjelaskan kebutuhan kekuatan-kekuatan kapitalis yang berkompetisi untuk mengeksternalkan sebanyak mungkin biaya produksi menjadi beban masyarakat dalam jumlah besar, termasuk biaya “cuci tangan”—(berupa) insentif tetap bagi aktivitas produksi dan konsumsi yang menghasilkan banyak limbah; dan ekspansi internasional kekuatan kapitalis ketika mereka mencari pasar baru, sumber daya baru dan, lebih banyak lagi tempat baru untuk membuang limbahnya.
Sehingga, terdapat konflik mendasar antara kapitalisme dan rasionalitas ekologis. Seperti yang dikatakan oleh Paul Sweezy, bahwa catatan buruk (di bidang lingkungan) kapitalisme disebabkan oleh sifat bawaannya yang mengusung proses akumulasi modal yang tak terkendali. Sistem tersebut tak memiliki mekanisme pengerem/pengendali selain krisis ekonomi berkala; satuan-satuan individual yang menyusunnya—modal yang terpisah-pisah— harus tanggap terhadap peluang-peluang meraup keuntungan dalam jangka pendek, atau tersingkir; tak ada bagian dalam sistem itu yang membuka diri atau sesuai dengan suatu perencanaan jangka panjang yang mutlak sangat penting bagi pelaksanaan sebuah program ekologi yang efektif.[13]
Banyak yang berpendapat, merujuk pada catatan lingkungan negeri-negeri sosialis maju, bahwa sosialisme bukan solusi, dan menegaskan bahwa negeri sosialis juga berada di bawah tekanan besar untuk mengakumulasikan modal, mendorong perilaku yang sama dengan perusahaan-perusaha an kapitalis. James O’Connor membantah pendapat kebanyakan tersebut dengan mengatakan bahwa tekanan untuk mengurangi biaya lebih kecil di dalam negeri sosialis (maupun dalam satuan-satuan produksinya) ketimbang dalam perusahaan-perusaha an kapitalis—karena perusahaan-perusaha an kapitalis dibimbing oleh norma-norma pasar; sedangkan perusahaan-perusaha an sosialis dibimbing oleh norma-norma politik. Walaupun pertumbuhan ekonomi juga menjadi tujuan kunci dalam negeri sosialis, namun tak ada kebutuhan pertumbuhan sistemik dalam kadar yang sama. Pertumbuhan lebih cenderung menjadi sebuah keputusan politik…. Memang, watak pengerukan sumber daya yang berani dan tak terencananya bertujuan demi pemanfaatan, bukan demi keuntungan, dan pertumbuhan dipandang sebagai sarana, bukan merupakan tujuan antara maupun tujuan akhir, kendati dalam prakteknya tentu tidak selalu demikian.[14]
O’Connor berpendapat bahwa ekonomi sosialis berpotensi menggunakan dan membuang sumber daya dalam jumlah yang lebih kecil ketimbang ekonomi kapitalis, dan konsumsi personal di bawah sosialisme menghasilkan lebih sedikit polusi. Karena dipaksa oleh permintaan, ekonomi kapitalis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan berbentuk komoditi, melibatkan penciptaan “kebutuhan-kebutuhan” yang diindividualkan dalam semua jenis komoditi. Di lain pihak, ekonomi sosialis menekankan konsumsi kolektif, tempat pemberhentian massal, fasilitas rekreasi dan liburan bersama, penanganan kesehatan bersifat pencegahan, dan permukiman bersama. Sehingga, seperti juga dikemukakan oleh Sweezy dan Magdoff,[15] negeri-negeri sosialis setidaknya berpotensi membuat beberapa kemajuan signifikan menuju produksi yang rasional secara ekologis.
Kendati demikian, negeri-negeri dengan kebijakan-kebijakan sosialis secara umum memiliki catatan lingkungan yang kurang baik. Sebagian karena keadaan tempat pemerintahan sosialis itu berada—relatif miskin, mendapat serangan-serangan dari luar dan, khususnya bagi yang kecil, mengalami ketergantungan ekonomi ala Dunia Ketiga, suatu posisi yang tidak menguntungkan dalam pasar internasional. Hambatan-hambatan yang saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan material penduduknya, mendorong pembentukan pertahanan militer yang cukup kuat, dan berlanjutnya produksi dan ekspor tanaman industry serta bahan mentah untuk perdagangan luar negerinya, sehingga pengambil kebijakan sosialis lebih menekankan pada akumulasi oleh negara¾suatu adopsi yang tidak kritis atas banyak bagian dari pembangunan kapitalis, yang catatannya sangat buruk saat berhadapan dengan lingkungan (meskipun, tentu saja, ada beberapa pengecualian).[16]
Tapi factor-faktor yang melekat pada ideologi sosialis juga memberikan sumbangan terhadap karakter kebijakan ekonomi sosialis tersebut. Salah satunya adalah produksionisme Marxisme, yang dicatat oleh Arthur MacEwan sebagai kelemahan penting yang menyebabkan diutamakannya kemajuan dalam produksi di atas kemajuan dalam bidang lain, dan subordinasi tujuan-tujuan lain di bawah akumulasi sosialis.[17]) Faktor lain, dalam pandangan Michael Redclift, adalah cara Marxisme mengkonseptualisasi kan nilai (value)—mendasarkann ya pada waktu kerja, karena memang begitu adanya, ketimbang mendasarkannya pada sifat-sifat bawaan dari material alam, sehingga membuat “nilai” lingkungan menjadi tak jelas.[18]
Akhirnya, karena gagal menyadari demokrasi yang sepenuh-penuhnya maka ekonomi dan politik di bawah kapitalisme atau sosialisme menjadi persoalan mendasar dalam krisis ekologis. Seperti ditulis oleh Barry Commoner, “pemerintahan sosial produksi telah gagal diwujudkan baik dalam negeri kapitalisme maupun negeri sosialisme. Apa yang dibutuhkan adalah perluasan demokrasi hingga ke ajang di mana keputusan produksi dibuat.”[19] Agak senada, Redclift mengatakan bahwa individu-individu baik dalam masyarakat industrial kapitalis maupun sosialis makin dibatasi dalam ikut bertanggung jawab atas lingkungan terdekat mereka sendiri dan lingkungan lain di masyrakat yang lain. Dalam penelitiannya tentang gerakan Hijau di Eropa Timur, ia menyimpulkan bahwa krisis ekologi berhubungan erat dengan penghargaan yang kurang terhadap hak-hak dasar manusia, kebebasan informasi, dan demokrasi partisipatoris.[20]
Meskipun kecenderungan bawaan kapitalisme membuang sampah (ke lingkungan) adalah konsekuensi dari syarat-syarat pertumbuhannya, kita tidak boleh “meragukan kecerdikan kapitalisme dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri,” seperti diperingatkan oleh Andre Gorz dalam Ecology in Politics.[21]) Dalam tingkat tertentu, terlihat jelas bahwa kapitalisme bisa menerima keprihatinan ekologi, sejauh solusi-solusinya bisa dikomoditikan. Jika masyarakat akan puas dengan air minum yang bersih – sementara sungai dan air tanah berpolusi—maka kami akan menjual air dalam botol dan menyaringnya untuk disimpan. Jika agen pengontrol biologis dapat dikemas dan dijual demi keuntungan bagi produsen pertanian, hal itu akan dilakukan, dan mungkin penggunaan pestisida yang berbahaya akan berkurang. Perusahaan-perusaha an kapitalis, jauh-jauh hari sebelum dipaksa, bukan saja karena alasan politik tapi juga karena alasan ekonomi, sudah mmpertimbangkan sumber-sumber daya ekologi, seperti unsur hara tanah dan populasi serangga bermanfaat, sebagai persediaan modal dalam perhitungan mereka.
Kendati beberapa masalah lingkungan dapat dipermak di sana-sini dalam konteks kapitalisme, tapi tidak demikian halnya dengan masalah lingkungan secara keseluruhan. Itu karena kecenderungan capital untuk berekspansi secara internasional – ketika capital dibatasi di tingkat lokal (contohnya, ketika pemerintah setempat menanggapi tekanan dari para environmentalis dan menerapkan regulasi berbiaya tinggi pada industri swasta demi perlindungan lingkungan), maka ia akan pindah.
Tindakan Politik
Dalam pemahaman akhir, tuntutan akan rasionalitas ekologis dalam skala besar merupakan tuntutan radikal karena pemenuhannya membutuhkan perubahan structural yang mendasar. Hal itu tentu tidak dipahami sepenuhnya oleh gerakan lingkungan, banyak partisipannya melihat bahwa tuntutan dan tujuan aksi-aksi mereka hanyalah untuk menerapkan perangkat-perangkat khusus perlindungan lingkungan. Peran khusus dari sayap kiri (ekologis sosial dan Marxis) dalam gerakan lingkungan adalah untuk secara berkelanjutan mengekspresikan politik dari keprihatinan ekologis-bahwa kemerosotan lingkungan bukan lah masalah “industri” atau “modernisasi” yang lepas dari hubungan-hubungan social produksi dan pertukaran. Bukan pula persoalan ideologi, yang selesai dengan kesadaran lingkungan yang lebih besar atau perubahan dalam gaya hidup perorangan. Kemerosotan lingkungan adalah persoalan kontrol yang tidak demokratis atas sumber daya-sumber daya dan proses pengambilan keputusan.
Walaupun pandangan ekologi sosial dan Marxis memiliki kesamaan dalam humanisme dan anti kapitalismenya, sesungguhnya mereka berbeda dalam cara mewujudkannya. Dalam praktek politik, posisi tegas Marxisme adalah bahwa ekologi tidak dapat (secara tersendiri) menjadi tujuan khusus dari suatu masyarakat atau suatu program. Sebaliknya, ekologis sosial, seperti yang mereka tunjukkan dalam analisis-analisis dan peran politiknya dalam partai-partai Hijau dan organisasi-organisa sinya, mendefinisikan politiknya dalam konteks ekologi dan menurunkan model masyarakat mereka dari ekologi atau kriteria-kriteria ekologis. Misalnya, ekologis sosial melihat desentralisasi sebagai elemen kunci dari masyarakat yang rasional secara ekologis. Namun, seperti dinyatakan oleh O’Connor, merujuk pengalaman Cina, desentralisasi industri, dalam ukuran ekonomi, mempersulit upaya untuk mewujudkan pengelolaan limbah, dan menyebabkan permasalahan- permasalahan polusi yang parah di tingkat lokal.[22] Terlebih lagi, menentukan ekologi sebagai satu-satunya kriteria untuk aksi, seseorang mungkin akan menolak kapitalisme tapi tak tahu ke mana harus pergi. Seperti dipahami oleh Gorz, “ekologi tidak perlu melakukan penolakan terhadap otoritarianisme, solusi-solusi teknofasis,”[23] karena dengan itu aturan-aturan dan kegiatan-kegiatan perlindungan lingkungan dapat diterapkan pada penduduk secara paksa.
Konflik yang sering dikedepankan adalah, di satu sisi, antara lapangan kerja atau keberlangsungan ekonomi dan, di sisi lain, kualitas lingkungan. Konflik tersebut sebenarnya tidak ada. Contohnya, menghadapi perlawanan kaum pecinta lingkungan (environmentalist)— terakhir paling terlihat dalam kampanye Redwood Summer tahun 1990 untuk menyelamatkan Redwoods yang sudah lama tumbuh di California utara-industri kayu California menyalahkan upaya-upaya pelestarian atas hilangnya lapangan kerja perkayuan. Kenyataannya industri itu sendiri yang bertanggung jawab. Dalam dekade terakhir saat produksi kayu di Humboldt County (salah satu lokasi aksi-aksi Redwood Summer) meningkat hingga lebih 50%, jumlah pekerja perkayuan menurun hingga 35%. Otomatisasi dan ekspor gelondongan untuk digergaji di luar negeri menyebabkan hilangnya lapangan kerja, dan walau ada penebangan berlebihan lapangan kerja perkayuan akan tetap menurun di kemudian hari.
Analisis politik yang lebih besar diperlukan untuk bergerak menuju tatanan yang lebih sosial dan rasional secara ekologis. Program yang menghubungkannya harus mencakup baik tujuan rasionalitas ekologis maupun tujuan keadilan dan demokrasi yang lebih didefinisikan secara sosial. Perspektif Marxis menyediakan elemen penting dalam analisis politiknya yang lebih besar¾dengan kritiknya pada kapitalisme dan khususnya teori akumulasi. Akumulasi kapitalis tidak hanya mendasari dan menggerakkan perusakan lingkungan, tapi juga penderitaan- penderitaan yang lain, seperti penerapan kontrol ekonomi dan politik oleh kepentingan kapitalis atas manusia di seluruh dunia. Hasilnya, jika kapitalisme adalah masalahnya, maka secara logis tidak lengkap dan secara politis dangkal jika membangun gerakan semata berbasis utama pada keprihatinan ekologis.
Akumulasi kapitalis, dan mobilitas, ekspansi, serta kontrol yang mengikutinya, memiliki implikasi langsung terhadap aksi politik kita di seputar isu lingkungan. Aksi kita harus diluaskan secara geografis jika tidak ingin menghasilkan kualitas lingkungan (yang baik) dan keselamatan untuk sekelompok orang tapi dengan mengorbankan lingkungan, kesehatan, atau nyawa orang lain. Contohnya, agitasi oleh para pecinta lingkungan dan konsumen di AS dalam menolak residu dari pestisida yang mengendap dan menyebabkan kanker (organoklorin seperti DBCP) telah membuat perusahaan-perusaha an yang memproduksinya “membuang” pestisida-pestisida tersebut ke Dunia Ketiga dan menggantinya dengan pestisida yang tidak menetap di tubuh tapi lebih beracun (organofosfat seperti parathion). Hasilnya, buruh tani di AS dan di luar negeri, yang mengerjakan tanaman budidaya untuk pasar AS, kemudian menderita lebih banyak keracunan dan tingkat kematian yang lebih tinggi.[24] Di AS sendiri, kaum pecinta lingkungan menghasilkan dampak yang tak merata—terdapat kecenderungan yang nyata untuk menempatkan sampah mematikan di lingkungan miskin orang-orang African-American, Latino dan penduduk asli Amerika berkaitan dengan rasisme dan kurangnya kekuatan politik komunitas-komunitas tersebut dibandingkan dengan warga yang lebih kaya atau tetangga kulit putih mereka.
Melemahnya negara-bangsa berhadapan dengan capital adalah alasan lain mengapa pengorganisasian lingkungan harus berlingkup internasional. Pada musim gugur 1989 misalnya, dalam menanggapi Belanda yang memberlakukan aturan emisi kendaraan, Prancis membawanya ke pengadilan Eropa. Pemerintah Prancis berargumen bahwa hukum Belanda menunjukkan pengingkaran terhadap kesepakatan Pasar Umum, karena mobil Prancis akan terhalangi untuk dijual di Belanda. Prancis memenangkan kasus tersebut.
Sebagai tambahan, untuk mengkonsolidasikan dan mempolitisir perlawanan-perlawan an lokal yang sudah ada—melawan pembuangan limbah beracun, pestisida, penambangan tak terkendali, dan lain sebagainya—demi kesatuan dan dampak politik yang lebih besar, kita perlu mulai mengkoordinasikanny a dalam gerakan nasional dan internasional. Itu sama dengan internasionalisasi pengorganisasian buruh, yang diperlukan karena alasan yang sama.
Banyak gerakan lingkungan di Dunia Ketiga terdiri dari orang-orang yang lingkungan hidupnya mengalami ancaman langsung dari polusi dan ekstraksi sumber daya. Beberapanya secara sadar anti imperialis dan atau sosialis. Tapi gerakan dan organisasi-organisa si Dunia Ketiga tersebut biasanya kekurangan sumber daya untuk melakukan lebih banyak koordinasi internasional. Organisasi-organisa si lingkungan progresif yang berbasis di negeri-negeri yang lebih kaya dapat memainkan peran penting dalam internasionalisasi aktivisme lingkungan, tidak hanya dengan kerja solidaritas jangka panjang, seperti pekerjaan New World Agriculture Group di Nikaragua, tapi juga melalui pembangunan jaringan organisasi-organisa si dan koordinasi aktivisme dalam skala internasional. Contoh dari organisasi yang membantu membangun jaringan internasional dan mengkoordinir aksinya adalah Pesticide Action Network, Greenpeace (yang sudah mengangkat dan melawan ekspor pestisida serta limbah beracun berbahaya), dan mereka yang membantu mengorganisir Fourth Internasional Congress in the Fate and Hope of the Earth yang diselenggarakan di Managua bulan Juni 1989, termasuk Earth Island Institute dan Environmental Project on Central America (EPOCA).
Karena mustahil menerapkan rasionalitas ekologis dalam skala luas di bawah kapitalisme, para pecinta lingkungan dan gerakan lingkungan dapat, dan di beberapa bagian dunia sudah, menjadi agen-agen perubahan revolusioner. Untuk mewujudkan potensi itu, para aktivis harus mengingat bahwa:
• permasalahan- permasalahan ekologi adalah masalah politis dalam makna bahwa masalah-masalah tersebut dihasilkan atau sangat dipengaruhi oleh kesenjangan- kesenjangan kontrol atas sumber daya dan kekuatan politik di antara kelompok-kelompok dan bangsa-bangsa;
• ekologi tidak dapat menjadi program politik itu sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari analisa dan program yang lebih luas;
• perlu memehami kapitalisme, dan khususnya dinamika akumulasi modal, agar mengerti mengapa kerusakan lingkungan terjadi dan akan terus berlanjut dalam dunia yang kapitalistik;
• oleh karena mobilitas dan ekspansi modal, serta melemahnya negara-bangsa, maka perlu mengkoordinasikan strategi secara internasional.


Catatan Kaki
1. The Red and the Green : Left Perspective on Ecology, Monthly Review, Okt, 1990 [^]
2. Katherine Yih adalah seorang ekologis yang aktif di New World Agriculture Group dan melakukan kerja solidaritas ilmiah untuk Nikaragua [^]
3. Murray Bookchin, Zeta, April 1989, halaman 3 [^]
4. Murray Bookchin, The Guardian, 3 Agustus 1988, halaman 23 [^]
5. Ibid [^]
6. Howard Hawkins, Resist, Juli-Agustus 1989, hal 4 [^]
7. Murray Bookchin, The Guardian, 3 Agustus 1988, hal 23 [^]
8. Howard Hawkins, Zeta, Juli-Agustus 1989, hal 152 [^]
9. Brian Tokar, berbicara di Mount Holyoke College, South Hadley, Massachusetts, 19 April 1990 [^]
10. Gagasan tersebut disajikan dan dikaji oleh Richard Lewontin dalam esainya (yang tidak dipublikasikan) pada tahun 1989 Dialectics of Nature. Analogi “tangan yang tak terlihat” dibuat untuk saya oleh seorang ekologis, Douglas Bucher [^]
11. Richard Levins dan Richard Lewontin, editor, The Dialectical Biologist (Cambridge: Harvard University Press, 1985 [^]
12. Konsep dan istilah tersebut terdapat dalam esai Richard Levins (yang tidak dipublikasikan) Toward a Gentle, Thought-Intensive Technology, 1985 [^]
13. Paul Sweezy, Socialism and Ecology, Monthly Review, September 1989, halaman 2 [^]
14. James O’Connor, Zeta, Juni 1989, halaman 32 [^]
15. Paul Sweezy, Socialism and Ecology, Monthly Review, September 1989; Paul Sweezy dan Harry Magdoff, Capitalism and The Environment, Monthly Review, Juni 1989 [^]
16. Lihat, misalnya, John Vandermeer, A Struggle on Two Fronts: the Greening of Nicaragua, Green Letter, Spring, 1990 [^]
17. Arthur MacEwan, Why Are We Still Socialist and Marxist After All This? Dalam Socialist Register 1990, editor oleh Ralph Miliband dan Leo Panitch (London : Merlin Press, 1990 [^]
18. Michael Redclitt, Turning Nightmares into Dreams : the Green Movement in Eastern Europe, The Ecologist, September-Oktober, 1989, halaman 178 [^]
19. Barry Commoner, Ecosphere vs Technosphere: Ending the War Against Earth, The Nation, 30 April 1990 [^]
20. Michael Redclitt, Turning Nightmares into Dreams, halaman 182 [^]
21. Andre Gorz, Ecology as Politics (Boston : South End Press, 1980 [^]
22. James O’Connor, Zeta, Juni 1989, halaman 31 [^]
23. Andre Gorz, Ecology as Politics, halaman 17 [^]
24. Lihat Laura Schere dan Dave Parks, The Guardian, 4 Juli 1990, hal 3 [^

SITUASIONIS INTERNASIONAL

Kami tidak menginginkan
kesempatan kerja yang total,
kami menginginkan
“kesempatan hidup yang sepenuhnya”
Apabila sebuah keluarga mendapatkan sebuah mesin cuci, kamu tidak akan mendengar ocehan salah satu anggota keluarga yang sebelumnya mencuci baju dengan menggunakan tangan, mengeluh kalau mesin cuci tersebut membuat mereka “tidak bekerja lagi”. Namun cukup aneh, apabila perkembangan yang sama terjadi pada skala dan lingkup sosial yang lebih luas, masalah seperti ini di lihat sebagai sebuah problematika yang cukup serius — “pengangguran” — misalnya, yang hanya dapat dituntaskan dengan membuka lapangan-lapangan kerja baru untuk dapat merekrut tenaga-tenaga kerja yang menganggur.
Solusi untuk memperluas kesempatan kerja dengan mengimplementasikan sebuah pekan kerja yang lebih pendek memang tampak menyelesaikan masalah lebih rasional. Namun solusi seperti ini tidak menyentuh irasionalitas mendasar dari sebuah sistem sosial yang di dasari oleh hubungan-hubungan pasar. Dengan hanya bereaksi pada salah satu manifestasi dari irasionalitas (fakta bahwa banyak orang bekerja seharian dan yang lainnya menganggur) secara bersamaan cenderung memperkuat ilusi bahwa bentuk kerja-sekarang adalah sesuatu yang penting dan normal., seperti bila saja satu pokok masalah yang secara aneh tidak dilihat setara, yang membuat absurditas dari sembilan puluh persen pekerjaan yang ada tidak tersentuh.
Di dalam suatu masyarakat yang sehat, penghapusan seluruh pekerjaan absurd ini (bukan hanya para produsen atau pasar yang menggelikan dan komoditas-komoditas tidak berguna tersebut, tapi ruang lingkup yang luas dari elemen-elemen yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam mendukung dan melindungi seluruh sistem komoditi) akan mereduksi tugas-tugas yang benar-benar penting sampai ke level yang terendah (mungkin kurang dari 10 jam tiap minggunya) hinnga tugas semacam ini akan dapat di kerjakan secara lebih mudah, sukarela dan kooperatif, selanjutnya menghapuskan kebutuhan kita akan keberadaan aparatus-aparatus insentif ekonomi dan penyelenggaraan negara.(1)
Beberapa aksi yang terjadi di Perancis baru-baru ini (yang hampir sama sekali tidak di reportasikan di media Amerika ) memperlihatkan sebuah perbedaan yang menyegarkan dari kaum “progresif” yang biasanya terlihat menuntut kesetaraan dari “perbudakan upah”.
Pada bulan desember dan januari, ribuan pengangguran berdemonstrasi di lusinan kota di perancis, dalam banyak kejadian mereka menduduki kantor-kantor pengangguran, ketenagakerjaan, perusahaan utiliti, dan agensi-agensi reposessi, menginvasi toko-toko dan restoran mewah, juga bersama-sama melakukan penyerangan di beberapa supermarket. Gerakan ini walau lebih hebat dari aksi-aksi pengangguran di AS, sayangnya sebagian besar gerakan berada dibawah kontrol assosiasi-assosiasi pengangguran resmi (didominasi oleh partai-partai kiri dan serikat pekerja). Tapi di pihak yang lain, kebanyakan aksi-aksi pendudukan yang terjadi di inisiatifkan oleh para individu-individu yang menolak di representasikan oleh para birokrat-birokrat asosiasi, mulai mengangkat suara dan beraksi untuk diri mereka sendiri.
Kecenderungan radikal ini terjadi pada awal pertengahan januari ketika para penganggur menduduki Paris Trade Center dan `Ecole Normale` superieure` yang elit, lalu setelah di paksa keluar oleh polisi mereka mengambil alih sebuah amphiteather di universitas Jussieu. Walau pendudukan ini secara jelas illegal, otoritas kampus menolak untuk memanggil polisi, dan pertemuan harian yang di hadiri seratus sampai dua ratus orang selanjutnya diadakan disitu hingga dua sampai tiga bulan.
Sementara sebagian besar dari gerakan penganggur di kendalikan secara birokratik dan murni simbolik (di tujukan untuk menekan pemerintah agar melakukan beberapa reformasi), gerakan pendudukan di Jussieu menginginkan pelaksanaan sebuah forum permanen yang dicanangkan untuk debat publik. Mereka tidak hanya membuka pertemuan bagi para pengangguran tapi juga bagi siapa saja yang tertarik untuk bergabung, gerakan ini juga mulai mencari hubungan di wilayah lainnya.
Dua prinsip dasar yang di setujui bersama oleh gerakan Jussieu: (1) bahwa aksi dan perjuangan harus di lakukan secara otonom (partai-partai, serikat pekerja, dan organisasi-organisasi hirarkis lainnya harus dianggap sebagai musuh oleh gerakan yang radikal), dan (2) bentuk kerja-upahan harus di gantikan dengan aktifitas self-organized yang lebih bebas.
Dewan Jussieu mengklaim tidak merepresentasikan siapapun, dewan tersebut diadakan hanya sebagai sebuah tempat bertemu dimana orang-orang dapat mendiskusikan apa saja yang mereka mau, dan apabila tertarik, dapat bergabung dengan yang lainnya untuk melaksanakan proyek yang di setujui ini. Dalam beberapa kejadian, seluruh gerakan yang mendadak ini dilakukan oleh beberapa lusin orang dari kelompok-kelompok pengelana, yang biasanya melakukan intervensi-intervensi di acara fashion show ataupun melempari tomat busuk ke wajah para agen-agen pajak; lalu menyerang sebuah supermarket dan memaksa pemiliknya untuk memberikan satu gerobak penuh makanan; lalu pergi ke subway dan pergi ke bagian kota lainnya untuk menyebarkan selebaran-selebaran ataupun graffiti yang bertuliskan: “waktu yang telah kau jual takkan pernah kau dapatkan kembali”, “kami tidak menginginkan bagian dari roti, kami menginginkan pabrik rotinya!”; dan setelah itu kembali ke dewan Jussieu untuk menceritakan hari yang penuh petualangan itu.
Di halaman selanjutnya kami telah menerjemahkan beberapa leaflet dan komunike. Kami menyebarkan materi-materi tersebut karena kami pikir hal ini mungkin dapat berguna dan dapat menantang orang-orang di negara lainnya yang menghadapi situasi yang sama. Sirkulasi ini tidaklah ditujukan untuk (seperti yang sering dilakukan oleh reportase-reportase kejadian dari gerakan-gerakan internasional lainnya) meliputi orang-orang dengan sebuah pertunjukan kejadian yang membesar-besarkan dan cenderung exotis, yang memberi impresi bahwa revolusi hanya dapat terjadi dengan aksi dashyat tanpa henti yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok masyarakat lain yang berada di bagian planet lainnya.
Kami bukannya berpendapat kalau Perancis sedang berada di ambang pintu revolusi. Aksi yang di laporkan di sini hanya di lakukan oleh minoritas dari populasi, dan gerakan sudah terlihat berakhir (selain pertemuan Jussieu yang diadakan seminggu dua kali). tapi kami juga berpendapat kalau para partisipan gerakan ini telah menemukan bahwa kehidupan sesungguhnya di mulai dari pengalaman-pengalaman personal. Dan pengalaman seperti ini kadangkala membawa kita ke sesuatu hal yang lebih besar.
BUREAU OF PUBLIC SECRETS [BIRO RAHASIA PUBLIK] April 1998
Sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi di negara ini. Sampai-sampai media, politikus, organisasi-organisasi pemerintah lainnya berusaha menutup-nutupi dan mendiamkannya. Dua bulan lalu Jospin secara blak-blakan menolak tuntutan para penganggur. Sejak saat itu serikat-serikat dan assosiasi pengangguran resmi menyuruh para penganggur untuk pulang ke rumah dan menyerahkan seluruh masalah kepada mereka. Media sama sekali tak menaruh mata, dan yang terjadi hanyalah penyebaran-penyebaran selebaran, tidak lebih dari itu.
Namun di sisi lain, hampir di semua tempat di negara ini para individu datang bersama-sama dengan kelompok-kelompok maupaun kolektif lalu bergabung di pertemuan jussieu dan mulai berdiskusi dengan yang lainnya secara langsung dan bebas.
Kami adalah salah satu dari mereka yang mengambil bagian pada pertemuan di universitas Jussieu ini. Selama akhir bulan dan setengah bulan ini sebuah forum yang kami organisasikan sendiri telah dilaksanakan setiap malam. Kami mulai saling berbicara dan mendengarkan satu sama lain — “para penganggur”, ”pekerja miskin”, “pelajar”, “gembel”, “kaum militan”, “unionist”, dan “siapa saja”. Kami menaruh tanda kutip pada label-label individu diatas karena, selain saling berdiksusi, kami mulai menyadari bahwa label-label tadi hanya menutupi diri kami untuk mengisolasikan diri kami satu sama lain, bahkan untuk memanipulasi diri kami untuk saling menyakiti; selain jabatan sosial kami yang sebenarnya, kami semua merupakan subjek dari sebuah sejarah yang sama, penindasan yang sama, dan juga tergambarkan hampir dengan kebutuhan, keinginan-keinginan dan pertanyaan yang sama.
Kami mulai untuk mendiskusikan SEGALA SESUATU. Di mulai dengan apa yang sebenarnya memporak-porandakan hidup kami, yaitu kerja dan ketidak bermaknaannya (kami menyimpulkan bahwa sembilan puluh persen dari produksi masyarakat sekarang ini adalah omong kosong tak berguna), upahnya yang menyedihkan, hirarkinya, horor kesehariannya; juga kebosanan dan kemalangan dari pengangguran, yang mulai kita sadari bahwa itu semua hanyalah bagian dari sirkulasi kerja, sebuah ancaman yang tertanam di pikiran setiap pekerja, memaksa mereka untuk terus tunduk pada pemerasan ekonomi.
Kami juga membicarakan masalah uang dan perdagangan; juga kesehatan, makanan yang kita konsumsi, juga udara yang kita hirup. Dan semakin jelas bahwa, dari sisi manapun kamu memahami masyarakat ini, kalian tidak akan dapat mengubahnya secara satu per satu tanpa mengubah keseluruhannya; karena segala sesuatunya telah dikaitkan dengan keuntungan dan uang, dan mahkluk hidup diperlakukan tidak lebih dari sekadar komoditi-komoditi lainnya: Membayar lebih atau sengsara, dieksploitasi, lalu di buang, layaknya sampah ketika tidak ada lagi yang dapat diperas untuk menghasilkan keuntungan. Setelah mecapai konklusi ini, kami memutuskan untuk mengkomunikasikannya pada yang lainnya.
Jadi kami mulai menulis selebaran. Tapi kami juga merasakan bahwa kontak langsung itu lebhi penting, karena itu kami pergi ke kafetaria-kafetaria dari berbagai macam usaha untuk bertemu dan berdiskusi dengan para pekerja, juga melakukan invasi ke kantor-kantor (ketenagakerjaan dan pengangguran, perusahaan utiliti, kantor surat kabar, restoran, etc) sebagai usaha untuk mengatakan kepada semua orang apa yang kita capai bersama di dalam pertemuan. Kami bertemu dengan para imigran illegal dan mengekspresikan siapa diri kami, dengan para pemogok wildcat, dan juga dengan konfederasi petani yang menolak penggunaan jagung rekayasa genetika, karena kami semua sadar bahwa kesengsaraan yang kami alami bersama berasal dari penyebab yang sama: Uang tunai, dan sistem yang menunjangnya.
Kami mulai mencari ide-ide yang lebih baik untuk sebuah masyarakat yang kami inginkan dengan melakukan beberapa eksprerimentasi langsung: pertemuan yang diadakan terus-menerus, membangun sebuah kebun kolektif agar kami dapat menanam sumber makanan kami sendiri, mengajarkan kedermawanan kepada penjaga toko (contoh-contoh utama dari kesombongan sosial); mencoba cara-cara yang berbeda dari hubungan interpersonal dalam permainan, menjelajah, mengadakan pesta makan malam. Seperti yang dikatakan oleh salah satu dari kami pada saat pertemuan: “selama dua bulan ini aku telah mendapatkan banyak teman, aku tidak pernah merasa bosan sedikit pun, dan dengan leganya aku mengatakan bahwa aku tidak lagi menunggu dengan gelisah cek per bulanku seperti yang dialami oleh banyak orang.”
Kami juga memperingatkan kepada para musuh-musuh kami, (bankir, pemodal, politisi, administrator, dan jurnalis) bahwa setelah kami telah memecahkan rantai isolasi kami, mereka tidak akan dapat lagi melakukan perbuatan-perbuatan kotor mereka terhadap kami.
Kami telah di represi (cara pemerintah merespons gerakan kami). Kami semua juga berjuang untuk membebaskan teman-teman kami yang di penjara. Dan kami akan terus menerus berefleksi dan kritis (juga satu dengan yang lain).
Kami juga tidak hanya berkonklusi bahwa tidak akan pernah ada kerja yang cukup bagi semua orang (yang keduanya di sebabkan oleh mesin-mesin dan juga perbudakan baru di negara-negara dunia ketiga), namun walaupun lapangan kerja itu ada, kami tidak berkeinginan untuk bekerja satu jam pun hanya untuk menghasilkan kebodohan, sampah yang tidak berguna, dan karena seluruh keperluan produksi haruslah di eksaminasi kembali dan di dasari atas kebutuhan dan hasrat kita. Seluruh uang yang ada di dunia ini, walau itu di bagikan secara rata pada semua orang, tidak akan memberikan perubahan yang berarti. (Kami akan tetap menerima uang yang kami tekan pada mereka, tapi uang bukanlah yang sebenarnya kami inginkan.)
SELAMA UANG ADA, MAKA TIDAK AKAN PERNAH CUKUP UNTUK SEMUA ORANG.
Refleksi ini secara alami telah membuat kami sadar bahwa kami perlu membangun bentuk yang berbeda dari masyarakat, sebuah tatanan dimana setiap orang dapat menentukan sendiri aktifitas dan produksi mereka daripada menjadi budak dari sistem produksi sekarang ini. Ini memang sebuah proyek yang besar. Tapi semenjak kami semua adalah “pengangguran”, kami mempunyai satu harta karun yang tidak berharga, yaitu, Waktu! Dan sejak saat ini kami memutuskan untuk menggunakan setiap waktu bagi kehidupan kami, untuk sebuah proyek-proyek yang menghasilkan momen-momen yang hidup dalam kehidupan kami, daripada melewatkan waktu dengan kerja-kerja yang hampa setiap hari, pulang rumah dan menonton tv dan mengulangi hari yang sama di esok harinya sampai ajal tiba ataupun menunggu antrian panggilan kerja di kantor-kantor menanti pekerjaan yang absurd.
Kami tahu kalau jutaan orang mempunyai perasaan dan ide yang sama, walau dalam banyak kasus keinginan seperti ini terkubur di dalam jurang perasaan mereka. Namun segala sesuatunya terserah pada kita semua, jika kita menginginkan untuk lepas dari isolasi-isolasi dan kepatuhan kita masing-masing. Kami mulai mengunjungi satu sama lain. Diskusi mengambil tempat di Paris dan beberapa dareah lainnya. organisasi dan aksi bersama-sama di koordinasikan.
Bagi kami, kesejahteraan yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan uang dan komoditi. Kami menemukan kekayaan di dalam pertemuan-pertemuan kami, rencana kolektif, dan juga di dalam mimpi-mimpi kami yang lain, sebuah masyarakat yang manusiawi — sebuah masyarakat dimana semua orang dapat bergabung untuk membayangkan bentuknya dan mengkreasikannya.
[7 maret]
Kami menduduki E`cole` Normale` Superieure` pada saat ini adalah untuk sebuah alasan yang tak dapat menunggu: kami menginginkan sebuah forum untuk dapat mendiskusikan sesuatu dan mendebatkannya. . . . Isolasi-isolasi dari para individu merupakan poin lemah dari perjuangan-perjuangan sebelumnya dan merupakan senjata utama dari sistem sekarang ini, isolasi haruslah dihancurkan.
[ca. 9 januari]
Kami menduduki markas nasional partai sosialis sebagai sebuah respons dari (perdana menteri partai sosialis) pernyataan Jospin di TV semalam. . . . Jauh dari niatan lain, gerakan ini dilakukan untuk mempertanyakan seluruh organisasi kerja dan isu-isu sosial yang mendasar, yang dengan secara hati-hati dihindari oleh Jospin dalam pidato-pidatonya. Karena inilah kami menyerukan kepada semua orang untuk mengorganisaikan diri mereka untuk meneruskan dan mempertahankan perjuangan.
[22 januari]
Kamu tidak memerlukan agensi-agensi ketenagakerjaan untuk melakukan PENDUDUKAN! Bergabunglah dengan kami di, Dewan pertemuan di unversitas Jussieu, Tiap minggu pada pukul 06:00 pm
Perjalanan kami adalah hari-hari aktif pertemuan, hari-hari dimana kami bermain-main dengan kota dan dengan hidup. Kami mencoba untuk tidak memapankan rutinitas, namun mencari inspirasi dalam membangkitkan ekspresi imajinasi setiap orang. Beberapa orang menganggap antusiasme kami berlebihan. Kami tidak mengklaim lebih superior dari orang lain, tapi kami merasakan bahwa kebersamaan kami mengandung sebuah benih keajaiban. Sedikit demi sedikit hubungan baru tercipta; kami menemukan kembali momen kebebasan; kedatangan bersama mimpi-mimpi kami, bahkan kegilaan kami, membawa kami menuju sebuah realita yang bersemangat dari sebelumnya. Musim dingin sudah lama melanda, Biarkan bunga-bunga bermekaran di musim semi yang cerah.
Cara terbaik untuk menghapuskan pengangguran adalah dengan menghapuskan kerja dan uang yang berkaitan dengannya.
Sangatlah absurd untuk menuntut “terciptanya lapangan kerja.” Kekayaan yang ada sudah lebih dari memadai untuk mencukupi kebutuhan semua orang; yang diperlukan hanyalah tinggal membagi-bagikannya. Sebagaimana seluruh bentuk-bentuk produksi yang tidak tidak melayani kepentingan yang sebenarnya, sebuah revolusi sosial akan menutup pabrik-pabrik dan menghapuskan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berguna dalam dua belas jam daripada kapitalisme selama dua belas tahun. Kami tidak menginginkan kesempatan kerja yang total, kami menginginkan “kesempatan hidup yang sepenuhnya”.
Membuat tuntutan seperti ini adalah benar secara moral maupun strategi, layaknya benefit bagi pengangguran ataupun jasa pelayanan publik yang gratis. Namun sebuah gerakan sosial seharusnya tidak membatasi dirinya hanya sampai sini. Menjumlahkannya untuk menuntut keadilan dari seluruh kekuatan-kekuatan yang didasari atas ketidakadilan. Slogan terkenal: “REALISTISLAH, DAN TUNTUT YANG TAK MUNGKIN!” bukanlah semata sloganis, lirikal, provokatif dan membesar-besarkan, namun merupakan suara yang paling masuk akal dan sehat. . . . Siapapun kita, pelajar, pekerja, ataupun penganggur, apa yang kita perlukan adalah tempat, waktu untuk bertemu, untuk membagi dan menceritakan mimpi-mimpi dan keinginan kita, dan membangun kembali hidup kita. Kita harus menuntut keindahan dan kesejahteraan bukannya kesempatan kerja!
Sampai sekarang ini, momok pengangguran telah digunakan oleh sistem kapitalis untuk meneror masyarakat agar menerima segala jenis pekerjaan yang disodorkan kepada mereka, dan lebih absurd lagi, menerimanya dalam kondisi apa saja. . . . Bukankah ini saatnya bagi kita, untuk mempertanyakan seluruh makna dari produksi yang kita lakukan? Apa yang kita produksi? Untuk siapa? Bagaimana? Apa dampaknya pada kehidupan sosial dan ekologi? . . . Mulailah berhenti untuk menggantungkan hidup kita kepada para spesialis yang mengklaim berbicara dan berjuang demi kehidupan kita. semuanya terserah pada kita untuk memutuskan apa yang mungkin, apa yang kita mau, dan bagaimana cara mendapatkannya. Semua tergantung pada diri kita untuk mengklaim kekuasaan pada diri kita sendiri, semua terserah pada kita untuk mengambil kembali sumber daya alam material yang telah dirampok dari kita secara politis dan finansial.
Orang yang tidak bekerja memiliki waktu luang yang banyak, karena mereka telah terlepas dari belenggu produksi. . . . Mereka menjadi berbahaya ketika mereka mencari sesuatu yang signifikan dengan waktu yang luang itu. . . . Pilihan sebenarnya bukanlah bekerja dan mendapat upah ataupun menjadi penganggur, tapi antara aktifitas yang bebas dengan aktifitas yang menciptakan keterasingan (alienasi). . . .
Gerakan ini dapat menjadi platform demi artikulasi dari seluruh perjuangan yang terpisah yang telah berhasil mencapai tahap yang sama dalam perjuangan melawan seluruh sistem komoditi. . . .
Kontradiksi mendasar dari gerakan ini berada diantara kecenderungan untuk membatasi dirinya sendiri pada tuntutan reformasi yang diserukan oleh para birokrat asosiasi dan kecenderungan radikal untuk menghapus seluruh sistem yang di setujui dan diekspresikan di dewan pertemuan Universitas Jussieu. Sejauh ini para birokrat dan para spesialis ini mempunyai kepentingan yang berbeda, mereka tidak menginginkan masalah ini mencapai pada puncaknya, karena apabila itu terjadi, mereka juga akan kehilangan pekerjaan mereka. Mereka tidak mempunyai keinginan lain tapi untuk membawa gerakan pada perjuangan yang absurd yang takkan pernah dimenangkan mauapun berakhir. Satu hal yang tidak mereka inginkan adalah ketika semuanya telah kehilangan kontrol. . . .
Masalah yang serius di dalam gerakan ini adalah bagaimana menghapus isu-isu reformis yang dianjurkan oleh para spesialis dari isu sentral pengangguran, dan bagaimana menarik pelatuk reaksi berantai yang akan menyebar ke seluruh masyarakat dan pada akhirnya akan menghentikan seluruh tirani dari ritme produksi. Pemberontakan mei 1968 menghasilkan effek seperti ini. . . . Namun para organisasi birokrat kiri pada waktu itu (Partai Komunis Perancis), yang mempunyai pengikut kuat dari para pekerja, dengat sangat sukses menyabotase gerakan ini. . . . Walau begitu, gerakan mei 68 ini menunjukan sebuah ke efektifan yang menakjubkan dari kelompok-kelompok kecil yang berjumlah lusinan orang yang mengimplementasikan apa yang mereka inginkan dan putuskan. Kelompok ini memberi kebebasan dalam beraksi maupun berpendapat — karena hanya jika orang-orang mempunyai sesuatu yang dilakukan secara bersama, mereka juga mempunyai sesuatu yang ingin di sampaikan.
Mayoritas dari para penganggur ini terpenjara sendiri oleh isolasi mereka. Gerakan ini sedang berada dalam persimpangan: diantara pilihan terus-menerus menuntut reformasi yang tidak mungkin dari sistem negara maju ini yang takkan membawa perubahan apapun pada para penganggur; ataukah mulai menyadari basis essensial dari problematika sebenarnya dan mulai mempertanyakan hubungan-hubungan sistem komoditi yang telah menghancurkan segalanya yang manusiawi yang pernah ada di masyarakat ini.
Sosiolog tertentu menggambarkan kita sebagai sebuah “generasi yang dikorbankan”. Tapi, kami menolak untuk mengorbankan hidup kami demi kepentingan stok pasar, pemerintahan, dan politik busuk mereka. Kami memilih melakukan perjuangan di dalam keseharian kami yang di lakukan secara otonom. Kami tidak mempunyai pemimpin,. Dewan kami menyamaratakan kekuasaan pada semuanya; komite-komitenya adalah subjek dari kolektif. . . .
Wahai kawan pelajar, apabila tidak terjadi sebuah perubahan ekonomi dan sosial yang mendasar, kita semua akan berakhir menjadi penganggur di kemudian hari. Kami menyerukan kepada semua orang untuk mendukung hak-hak para penganggur dan pekerja untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Setiap individulah yang akan mempengaruhi bagaimana wajah masa depan nantinya. Jangan biarkan yang mereka memutuskannya untukmu! Lawan balik!
—Komite Aksi Pelajar menengah atas
“Kemakmuran 358 milyuner — 358 orang-orang terkaya di dunia — melampaui jauh pendapatan pertahun dari empat puluh lima persen orang-orang termiskin di planet ini yaitu, 2,6 milyar orang” (Le Monde Diplomatique, feb 1997). . . . Kamu pasti sungguh naif untuk berpikir bahwa para politisi-politisi bijak itu dapat mengobati keluh-kesah dari kaum papa. Para politisi itu, tidak lain hanyalah administrator-administrator yang bertugas melayani master-master bumi yang sesungguhnya: para pemilik perusahaan multinasional. . . .
Kita memerlukan semangat untuk membangun sebuah “masyarakat yang bebas” — semangat untuk kreasi sebuah masyarakat yang berbeda. . . . Hal ini memang tampak lebih komplex, namun lebih baik di bandingkan menunaikan cek perbulan kita dan pergi tidur, atau menunggu para pahlawan politik untuk memecahkan masalah kita. . . . Dan proyek seperti ini memberikan kita manfaat yang lebih baik: sebuah “pendudukan” yang sangat berharga bagi umat manusia!
[Brittany]
Pada tanggal 8 january 1998, 200 anggota dari konfederasi petani bereaksi menentang pemerintah terhadap keputusan untuk menetapkan penggunaan jagung relayasa genetika di Perancis, mereka mendobrak gudang Novartis Seed Company, membuka sak-sak jagung dan membakarnya, sebagai sebuah usaha untuk menunjukan berbahayanya pengguanaan jagung jenis ini terhadap manusia. Menurut petani-petani ini jagung ini beresiko mentransmisikan sebuah efek kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia. (Le Monde, january 19)
Pergerakan penganggur harus melihat hubungan yang sangat dekat antara aksi seperti ini dan aksi yang dilakukannya. Relasi-relasi pasar yang cenderung menonaktifkan mayoritas masyarakat dari segala kekuasaan kehidupan mereka sendiri, adalah relasi yang sama yang menyebabkan degradasi konstan yang meningkat dari kondisi mendasar kebertahanan hidup oleh perusakan alam dan penyebaran racun keseluruh populasi. . . . Kapitalisme sama saja dengan bunuh diri, setiap kali melangkah menuju perkembangan baru, secara bersamaan juga langkah baru menuju bencana. Skala dan lingkup luas dari bencana dan ancaman yang disebabkannya menjadi masalah hidup dan mati untuk mempertanyakan kondisi alami masyarakat yang di dominasi oleh relasi-relasi komoditi. karena alasan untuk bertahan hidup, kita semua harus melakukan suatu transformasi radikal dari masyarakat. . . .
Tiga dari anggota konfederasi petani di tahan karena aksi ini. Kami berniat untuk mendukung mereka semampu kami, yaitu dimulai dengan mengambil bagian di dalam demonstrasi besar-besaran sebagai sebuah solidaritas dan protes yang akan di adakan di kantor pengadilan di saat pengadilan mereka berlangsung pada tanggal 3 februari.
—Dewan utama Jussieu (21 januari)
Teknik-teknik dominasi berkembang secara tajam — saking cepatnya bahkan melebihi peningkatan keuntungan dan pengangguran — dimana siapapun yang tidak berada di dalam lingkaran kekuasaan dihadapi pertanyaan seperti ini: apakah masih mungkin untuk mendengungkan kebenaran disaat banyaknya kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik berada dalam satu liga untuk menutup-nutupinya? Bagaimana, ditengah-tengah sebuah populasi yang diubah menjadi penonton yang tuli, dapatkah kita merintangi perbuatan-perbuatan para pebisnis dan pendukung-pendukungnya untuk terus melakukan kegiatannya di siang hari yang terang, mengetahui kalau takkan ada yang akan menentang mereka tidak peduli mereka salah atau benar? Di tengah-tengah kondisi seperti ini, bagaimana kita menghadapi situasi yang benar-benar darurat?
Menghadapi jagung-jagung rekayasa genetika Novartis dan pemerintah yang secara menjijikannya melegalkan keberadaan jagung ini, yang juga telah berbohong mengenai keamanan pengkonsumsiannya. . . . kawan-kawan dan aku sendiri berpikir bahwa aksi haruslah dilakukan sebelum terlambat. . . .
Para demonstran yang bergabung di sebuah perkara pengadilan pertama kali mengenai tanaman rekayasa genetika, yang teriakan-teriakannya terdengar sampai kedalam ruangan pada sore hari ini, pada saat yang bersamaan mengangkat perkara mengenai sebuah tatanan sosial yang beresiko meracuni kemanusiaan dan seluruh planetnya atas nama keseimbangan ekonomi dan perdagangan bebas.
—Re`ne riesel, “pernyataan pada agen pengadilan” (3 februari)
Seperti yang kita semua harapkan, konfederasi petani telah sukses mengubah perkara dari ketiga anggota yang telah menghancurkan stok-stok jagung rekayasa genetika menjadi sebuah perkara pengadilan tentang jagung itu sendiri dan perusahaan agro-industri multinasional yang memproduksinya. 10 saksi dari para ilmuwan, petani ekologis, dan konsumen bersaksi mengenai penetapan pemerintah atas kulitvasi jagung jenis ini adalah sangat berbahaya. 1800 orang yang berkumpul di luar gedung menuntut moratorium dari penjualan dan kultivasi jagung berbahaya ini. 292 organisasi dari 24 daerah juga mengekspresikan dukungan mereka. . . . Apapun hasil yang akan keluar,(2) kejadian ini akan menandakan tahapan yang penting dari mobilisasi internasional untuk membela ekologi, petani agrikultur melawan perusahaan-perusahaan yang menggunakan bahan kimia yang berbahaya.
—Konfederasi petani (3 februari)
Kami mengetahui apa yang kalian butuhkan lebih baik dari kalian sendiri. Karena kami adalah para Spesialis!
Sejak kalian memilih kami, kami tidak pernah memikirkan hal yang lain selain kesejahteraan Kalian.
Kami benar-benar khawatir mengenai masalah pengangguran ini. Karena itu kami berusaha mencari solusi yang mungkin dari masalah ini. Kami ingin memberitahu kalian mengenai efek dari kemalasan yang menyiksa diri kalian sendiri (semua orang tahu kalau itu cara kerja iblis). kami ingin menyelamatkanmu dari bahaya dan kesengsaraan ketika orang-orang mulai mengambil kontrol untuk diri mereka sendiri dan memutuskan segalanya menurut kemauan mereka sendiri.
Setelah melalui kalkulasi yang panjang dan melelahkan, para ahli kami menemukan solusi terbaik untuk merevitalisasi alur profit (yang tentunya akan di bagikan kepada semua orang), yaitu dengan membuka lapangan-lapangan kerja baru secara maksimum demi kebutuhan manusia, profesi seperti: penyemir sepatu, penjaga pintu, pembungkus plastik di supermarket, ataupun pelayan anjing kesayangan para bos. Dalam mengambil peranan penting dalam masyarakat, kami sangat percaya diri kalau para penganggur senang dengan kesempatan kerja ini.
Beberapa orang yag tidak puas selalu cepat mengkritisi tapi tidak pernah mengajukan ide-ide yag konstruktif tentang bagaimana menciptakan masa depan yang baik bagi kehidupan manusia. Mereka berusaha menyatakan bahwa program-program seperti ini (satu-satunya program yang dapat menyelamatkan peradaban) dan pekerjaan-pekerjaannya sangatlah tidak berguna dan menyengsarakan. Para kriminal-kriminal utopian ini menginginkan masyarakat mendahului profit, dan mengubah negara beradab ini menjadi barbarisme, seperti yang pernah terjadi di hari-hari gelap revolusi Perancis dan Komune Paris yang berdarah.
Kita semua telah mempelajari sejarah. Kami tidak menginginkan negara ini — negara indah yang menjamin kebebasan berekspresi, kesejahteraan, waktu luang, dan program olah raga di acara tv untuk masyarakatnya — diserahkan kepada kaum proletar pemabuk yang buta huruf. Karena itu dengan segala kebijaksanaan dan juga untuk keamanan semua, kami memutuskan untuk menawarkan pekerjaan pada ratusan ribu anak muda sebagai pembantu polisi, penjaga part-time, pengganti pemeriksa tiket, atau informer magang.
Teruslah untuk menggantungkan nasib kalian kepada kami. Dan jangan pergi ke universitas Jussieu, karena hal itu tidak akan menyelesaikan apapun selain hanya merugikan diri kalian sendiri. Seperti yang kalian tahu, keinginan kalian adalah keinginan kami juga.
—PEMERINTAHMU
KETERANGAN:
1. Untuk sebuah eksaminasi yang lebih detil mengenai bagaimana masyarakat seperti itu dapat terjadi, tak tiknya, dan analisa yang lebih dalam, baca The joy of revolution, buku dari Ken Knabb, Public Secrets.
2. Ketiga petani, Rene Riesel, Francis Roux, dan Jose Bove, di tunda hukumannya dan disuruh menebus denda kerugian sebanyak 100 000 $ atas kerusakan pada pihak Novartis. Mereka tidak pernah berniat untuk menebusnya. Sementara itu isu ini telah di ketahui secara luas dan menjadi perdebatan dan pemerintah Perancis merasa berkewajiban dalam membentuk tim juri independen untuk menyelidiki kemungkinan resiko yang dapat di sebabkan oleh Jagung rekayasa genetika tersebut. Untuk informasi yang lebih lanjut mengenai perkembangannya dapat kalian ketahui disini: Confédération Paysanne, 81 Avenue de la République, 93170 Bagnolet, France (www.confederationpaysanne.fr).
Seluruh bagian dari tulisan ini keluar pada bulan Januari-Maret tahun 1998. Selain tulisan dari Bureau Of Public Secrets, semua teks ini yang ada disini berasal dari Paris. Terima kasih untuk Luc Mercier, orang yang menyediakan hampir semua bagian dari teks dan informasinya. Diterjemahkan dari bahasa Perancis ke Inggris oleh Ken Knabb. Dari Inggris ke Indonesia oleh Ray—Kolektif Libertania, Balikpapan Kaltim. 2005.
Indonesian version of “We Don’t Want Full Employment, We Want Full Lives!”, a presentation of documents from the French jobless revolt of 1998. Translated 2003 (and revised 2005) by Ray, Kolektif Libertania (East Borneo