Selasa, 29 Juni 2010

Manajemen Studio Komik Indonesia

Manajemen Studio Komik Indonesia: Sebuah Dialektika
Oleh:Yudiana“Fedi!”DianFianto
Praktisidari StudioKomikBajingLoncat
Ditulis untuk Gelar Komik Merdeka, Solo, 23 April 2002.
Pengantar
Suatu organisasi merupakan suatu kesatuan sosial dari sekelompok individu (orang), yang saling beriteraksi menurut suatu pola yang terstruktur dengan cara tertentu sehingga setiap anggota organisasi mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing, dan sebagai suatu kesatuan mempunyai tujuan tertentu, dan juga mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga organisasi dapat dipisahkan secara tegas dari lingkungannya (Daft, Richard L. Organization Theory and Design. St, Paul – Minnesota. West Publishing Company. 1983).
Berdasarkan teori di atas bisa dinyatakan bahwa, Studio Komik adalah sebuah organisasi, yang terdiri dari berbagai bidang keahlian (menulis, sketsa, penintaan, pewarnaan, penyuntingan, pengarahan, layout, pracetak, akuntansi, pemasaran, dsb) yang memiliki metoda tersendiri, dan memiliki sebuah tujuan yaitu membuat karya komik.
Suatu organisasi dibangun atas suatu dasar kebutuhan yang muncul baik secara internal (dari dalam/unsur Studio Komik sendiri) maupun eksternal (dari lingkungan di luar Studio Komik). Walaupun kebutuhan internal akan sangat berpengaruh dalam organisasi, namun kebutuhan eksternal pada akhirnya akan menentukan kehidupan suatu organisasi. Oleh karena itu pembahasan lingkungan menjadi suatu yang sangat penting dalam manajemen. Suatu organisasi harus merespon sebuah kebutuhan dari lingkungannya. Karya komik baik dalam buku atau bentuk lain muncul dari kebutuhan masyarakat akan hiburan visual.







Saat ini kebutuhan hiburan visual didapatkan masyarakat dari berbagai media diantaranya lewat buku komik. Hal itu terjadi karena buku komik memiliki kelebihan dibandingkan media lain (lebih jelasnya silahkan baca: Mcloud, Scott. Creating Comics). Kebutuhan akan buku komik tersebut dipenuhi oleh buku komik lisensi (bukan komik impor) terbitan penerbit lokal yang mendominasi pasar komik di Indonesia.
Untuk lebih mempertajam pembahasan maka tulisan ini membatasi pembahasan pada media buku saja. Media lain sebenarnya sangat mirip sehingga bisa dengan mudah dianalogikan dengan buku. Sedangkan dalam pembahasan organisasi, tulisan ini akan berfokus pada organisasi bisnis dan entrepreneurial, karena dalam di luar tinjauan itu cara pikir akan jauh berbeda.
Lingkungan: Pasar Komik di Indonesia
Keberhasilan organisasi diukur dari efektivitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuannya. Keberhasilan tersebut sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan di luar organisasi. Lingkungan sebuah Studio Komik adalah pasar komik di Indonesia. Sebelum membahas lebih jauh dan untuk mendapatkan gambaran sistem manajemen yang dibutuhkan untuk sebuah Studio Komik, kita harus terlebih dahulu melihat relasi yang ada pada pasar komik di Indonesia. Relasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:




Relasi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Studio Komik.
Hilir dari pasar komik indonesia, terdiri atas artis-artis komik dengan berbagai keahlian yang berbeda-beda, sketch artist, ink artist, background artist, coloring artist, dan keahlian lain, bekerjasama untuk membuat sebuah karya komik. Untuk dapat membuat suatu karya komik yang berhasil sebuah studio harus didukung sistem manajemen yang profesional dan infrastruktur yang memadai. Pembahasan kita akan berfokus pada organisasi ini.
Penerbit.
Sesuai namanya peran institusi ini penting dalam penerbitan suatu karya komik. Penerbit memilih karya komik dari studio-Studio Komik yang ada. Pilihan penerbit disesuaikan dengan strategi yang dipilih. Strategi tersebut meliputi pilihan target konsumen, positioning, dan bauran produk yang mereka miliki. Buku adalah sebuah aset yang tidak likuid. Potensi kerugian akan terjadi bila buku tidak dapat dengan cepat terjual sehingga menghasilkan cashflow positif. Waktu yang dibutuhkan sejak sebuah investasi penerbitan dilakukan sampai aset (berupa buku) terjual dan menghasilkan keuntungan disebut dengan siklus kas ke kas. Siklus ini sangat penting dalam cashflow perusahaan, dan menentukan profitabilitas suatu penerbitan. Kegagalan dalam menghasilkan cashflow positif serta waktu kas ke kas yang terlalu lama akan berakibat fatal pada sebuah penerbitan. Oleh karena itu, sebagai pihak dengan resiko finansial terbesar dalam industri ini, penerbit akan melakukan penelitian pasar yang sangat dalam dan hati-hati. Hal ini akan sangat berpengaruh dalam prilaku masing-masing penerbit dalam menyeleksi sebuah karya. Tentu saja tidak semua jenis karya komik yang dihasilkan Studio Komik akan diserap oleh sebuah penerbit. Dengan strategi yang berbeda-beda maka masing-masing penerbit akan memilih karya komik yang sesuai dengan strategi mereka masing-masing.
Distributor.
Merupakan sebuah institusi yang bertugas menyebarkan buku komik ke toko buku, stand koran/majalah, dan outlet lain. Distributor menyebarkan buku komik ke berbagai jenis retail didasarkan oleh kesamaan antara karakteristik sebuah buku komik dengan karakteristik pembelinya. Distributor dituntut untuk menguasai teknik penjualan tak langsung pada konsumen. Dengan analisis yang tepat mengenai segmen konsumen dan prilaku pembelian pada jenis retail tertentu, sebuah sistem distribusi akan dapat menyampaikan buku komik tepat ke segmen konsumen sasaran. Setiap jenis ritel memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Distirbutor harus mampu memanfaatkan kelebihan setiap jenis ritel, misalnya bagaimana cara pemajangan (display) sehingga suatu buku komik akan lebih tampak menarik dibandingkan produk buku komik lain, sehingga dibeli oleh konsumen, dsb. Untuk toko buku distribusi umumnya dilakukan oleh penerbit sendiri atau anak perusahaan penerbit yang bergerak di bidang distribusi. Sedangkan untuk stand koran/majalah distribusi dilakukan oleh agen-agen koran/majalah.
Ritel.
Hulu dari pasar komik indonesia, adalah tempat transaksi komik pada konsumen terjadi. Terdiri dari berbagai jenis diantaranya toko buku, stand koran/majalah, e-commerce, direct selling, dsb. Masing-masing dijangkau oleh sistem distribusi yang berbeda dan memiliki karakteristik yang berbeda.
Tidak menutup kemungkinan bahwa ada salah satu pihak yang merangkap peran tertentu. Misalnya peran penerbit yang sering dirangkap dengan distribusi, hal ini merupakan stereotype penerbit di Indonesia. Atau peran Studio Komik yang juga merangkap sebagai penerbit dan distributor sekaligus, hal ini umumnya dianut oleh Studio Komik yang menerbitkan karyanya secara independen. Dalam iklim bisnis komik yang kurang kondusif dewasa ini, cara-cara tersebut lazim digunakan, bahkan cara penerbitan independen dapat menjadi alternatif dalam menembus dominasi sistem distribusi tertentu yang dikuasai salah satu pihak. Memang sistem distribusi di Indonesia hanya dikuasai oleh satu dua pihak saja yang sering kali beroperasi secara monopoli dan menyerupai mafia. Sistem ini cepat atau lambat harus diperbaiki baik oleh regulasi pemerintah dan sikap proaktif dari pasar.
Dekripsi di atas harus benar-benar kita pahami. Sebagai sebuah sistem manajemen profesional, tim manajemen Studio Komik harus memahami posisi Studio Komik terhadap pihak lain dalam pasar komik Indonesia. Pemahaman tersebut dapat digunakan sebagai acuan strategi yang tepat yang ditetapkan oleh sebuah Studio Komik dalam proses pembuatan karyanya. Dengan memahami prilaku penerbit misalnya, tim manajemen Studio Komik dapat menyusun sebuah proposal karya komik yang tepat dan berargumentasi kuat. Dalam berhadapan dalam pihak lain, Studio Komik harus dapat meyakinkan bahwa karya yang mereka usulkan dan akan mereka produksi merupakan karya yang tepat dan menguntungkan bagi semua pihak. Jadi sebuah karya yang diusulkan harus menarik baik dalam sisi artistik maupun bisnis.
Selain itu sebagai pihak yang menanggung resiko kedua terbesar dari segi ekonomis, Studio Komik harus menguasai aspek legal dengan baik. Studio Komik seharusnya memiliki ahli yang secara khusus mengembangkan pengetahuan dalam aspek hukum terutama dalam HAKI (Hak Atas Karya Intelektual). Penguasaan ini sangat penting untuk menjaga kepentingan Studio Komik dalam berinteraksi dengan penerbit. Buta akan HAKI menjadi ciri khas Indonesia. Sebagai salah satu negara terburuk dalam masalah HAKI ini, ditambah dengan penegakan hukum yang lemah, Studio Komik harus ekstra hati-hati dalam bernegosiasi dengen pihak lain, terutama dengan penerbit sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan Studio Komik. Sering kali pihak penerbit pun tidak menguasai hal ini. Kadang-kadang bukan mereka tidak ingin melindungi hak Studio Komik atas karyanya, namun ketidaktahuan akan HAKI membuat mereka tak tahu batas mana yang boleh dan batas mana yang tidak boleh dilanggar. Dengan kondisi demikian Studio Komik harus secara proaktif melindungi karyanya dan melakukan edukasi pada pihak lain.
Internal: Sumber Daya di dalam Studio Komik
Pada umumnya sebuah Studio Komik dibangun dengan semangat wirausaha dan idealisme yang tinggi. Namun sebuah wirausaha yang berhasil sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen entrepreneurial-nya. Manajemen entrepreunerial menghubungkan satu sumber daya dengan sumber daya lainnya sehingga sebuah Studio Komik mampu menghasilkan sebuah karya komik. Karena sifat idealismenya tersebut sering kali sebuah Studio Komik dibangun tanpa dukungan finansial yang baik. Tapi itu tidak masalah, karena seperti pada organisasi bisnis lainnya sering kali didirikan dengan modal yang kecil. Namun tanpa manajemen finansial maka sebuah Studio Komik tidak akan mampu bertahan lama, ia akan muncul dan tenggelam, menjadi sebuah studio ‘tempo’ atau ’senin-kamis’. Manajemen cashflow menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan manapun. Cashflow ibaratnya pembuluh darah yang menjaga agar darah yang dipompa jantung mencapai jaringan di seluruh tubuh.
Manajemen Sumber Daya Manusia menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah Studio Komik. Namun untuk dapat membuat strategi yang tepat sebelumnya harus dilakukan tinjauan terhadap jenis pekerjaan dalam sebuah Studio Komik. Pekerjaan pembuatan komik sebagai inti bisnis dan kompetensi Studio Komik memiliki ciri Teknologi Craft (Perrow, Charles. A Framework for the Comparative Analysis of Organizations. American Sociological Review 1967). Teknologi Craft dicirikan dengan pekerjaan dengan kemudahan analisis yang rendah (sulit dianalisis) dan variasi tugas yang rendah. Aliran kegiatan relatif stabil sehingga mudah diprediksi dan diarahkan seperti proses linier ban berjalan. Ban berjalan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Namun kesulitan analisis merupakan tantangan sebenarnya bagi manajemen Studio Komik. Proses pembuatan komik di setiap tahap tidak dengan mudah dipelajari dan dipahami. Setiap jenis keahlian tersebut menuntut pengalaman yang tinggi serta latihan yang cukup. Hal ini menyebabkan seorang artis tidak mudah digantikan oleh artis lainnya. Penggantian seorang artis dengan artis lainnya dapat mengakibatkan perubahan nilai dan rasa sebuah karya. Penggantian hanya bisa dilakukan apabila kemampuan artis pengganti dengan yang digantikan cukup setara, dan mereka harus memiliki waktu kerja bersama dalam satu tim yang cukup tinggi. Sistem ini nampaknya yang dikuasai oleh Studio Komik di Jepang. Dengan ketergantungan yang cukup besar tersebut tidak mudah melakukan penggantian suatu keahlian tertentu bila terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. Dengan demikian untuk mempertahankan suatu produksi agar sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan menjadi suatu tantangan sebenarnya. Selain berkaitan dengan Manajemen Sumber Daya Manusia hal ini juga berkait erat dengan Manajemen Produksi sebuah Studio Komik.
Di samping itu upaya untuk memberikan kesadaran profesional pada artis komik pun sangatlah penting. Kesadaran profesional ini mencakup pengertian akan batasan hak dan kewajiban profesional masing-masing keahlian, dan kesadaran sebagai bagian dari tim kerja. Biasanya pada sebuah Studio Komik yang baru muncul hal ini sering kali bias. Selain karena belum memiliki jam terbang yang cukup dalam pembuatan komik, sering kali ada beberapa keahlian yang dirangkap oleh satu orang, dan munculnya sikap bahwa suatu keahlian lebih penting dari yang lainnya, serta perangkapan jabatan manajer dengan artis. Perangkapan jabatan manajer dengan artis biasanya tidak dapat dihindari pada tahap awal sebuah Studio Komik, namun tanpa kematangan dalam bidang ini hal tersebut dapat menyebabkan konflik kepentingan yang berbahaya bagi kelangsungan sebuah Studio Komik. Hal tersebut wajar saja dalam perjalanan sebuah organisasi. Namun sedikit demi sedikit hal tersebut harus dikurangi sehingga Studio Komik dapat diarahkan pada rel yang tepat.
Internal Vs. Eksternal: Sebuah proses yang panjang
Proses menyelaraskan strategi internal dan eksternal perusahaan merupakan sebuah dialektika tersendiri yang bisa jadi mengasyikkan atau menjadi mimpi buruk bagi seorang manajer. Menyelaraskan kebutuhan pasar terhadap produk komik tertentu dan menyesuaikannya dengan kemampuan artis yang dimiliki merupakan hal yang umumnya akan dirasakan oleh sebuah Studio Komik. Misalnya komik tentang remaja tentu sulit untuk dibuat oleh artis yang mendalami komik untuk anak-anak. Maka pendekatannya pun bisa sebaiknya yaitu mencari kebutuhan segmen tertentu yang pas dengan artis yang bersangkutan dan tim nya. Walaupun sering kali dalam praktek tidak lah semudah itu karena bisa jadi kebutuhan tersebut muncul bukan dalam media buku komik.
Penyelarasan strategi pemasaran sebuah Studio Komik dengan strategi pemasaran Penerbit harus dilakukan dengan baik. Sebuah strategi pemasaran Studio Komik tidak dapat secara lepas ditentukan begitu saja tanpa memperhatikan strategi pihak lain. Apalagi bila Studio Komik ditinjau sebagai bagian mata rantai pasar komik Indonesia. Hal ini penting karena Studio Komik berhubungan dengan konsumen secara tidak langsung, sehingga pendapat pihak lain yang berhubungan langsung dengan konsumen harus didengar dan menjadi masukan untuk strategi yang dibuat. Kedua belah pihak pemegang resiko terbesar dalam pasar (Studio Komik dan Penerbit) ini harus berdialog dan berdiskusi mengenai strategi masing-masing dan menemukan titik temu yang menguntungkan kedua belah pihak. Masing-masing pihak harus melakukan riset pasarnya masing-masing untuk kemudian menjadi acuan strategi masing-masing. Tentu dalam riset pasar Studio Komik bukan hanya konsumen yang menjadi objek riset, melainkan juga Penerbit, Distributor, dan Ritel. Gurauan dalam advertising yang menyebutkan, “Klien yang baik menghasilkan karya yang baik.” Gurauan tersebut ada benarnya juga dalam bisnis komik Indonesia. Setidaknya jangan berputus asa dengan satu penerbit, selalu coba penerbit lain, siapa tahu klien yang baik.
Pemahaman atas pentingnya Manajemen Pemasaran saat ini dirasakan oleh semua pihak. Hal ini didukung dengan publikasi mengenai bidang yang satu ini. Dan hal ini juga rupanya menggema di antara Studio Komik, mungkin juga termasuk dalam event GKM ini. Namun ada yang sering terlupakan dalam pembahasan Manajemen Pemasaran oleh Studio Komik, yaitu inti dari Manajemen Pemasaran adalah kebutuhan konsumen dan diakhiri dengan kepuasan konsumen. Sering kali pembahasan mengenai pemasaran hanya difokuskan pada targeting dan positioning, serta diferensiasi. Namun sebelum melakukan pembahasan tersebut tidak terlebih dahulu dilakukan riset pasar terutama mengenai ‘needs’-kebutuhan konsumen- dan analisis mengenai segmen yang ada di pasar secara mendalam dan luas. Positioning dan Differensiasi sering kali didasarkan oleh karakteristik internal bukan eksternal. Akibatnya konsep pemasaran menjadi salah arah. Pemasaran bukannya mengubah ‘needs’ -kebutuhan konsumen- menjadi ‘wants’ dan diakhiri dengan kepuasan konsumen. Melainkan berusaha mengubah ‘wants’ Studio Komik menjadi ‘needs’ konsumen yang tentu saja hal yang mustahil.
Demikian tulisan ini menggambarkan tantangan yang dihadapi sebuah Studio Komik. Ini masih sebuah proses dialektika yang panjang, sebuah pembelajaran terus menerus untuk benar-benar memahami industri komik bagaimana yang seharusnya berjalan. Studio Komik yang ada di Indonesia baru mencapai tahap pertama dan keuda pertumbuhan organisasi yang diwarnai dengan krisis kepemimpinan. Akankan Studio Komik mencapai tahap perkembangan berikutnya dan mencapai puncak life cyle-nya? Roma tidak dibangun dalam waktu semalam, mungkin ungkapan yang tepat. Disney tidak dibangun dalam sepekan mungkin dapat menjadi ungkapan yang memberi kita semangat untuk terus berjuang.
Viva Industri Kreatif Indonesia!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar